Tampilkan postingan dengan label racau. Tampilkan semua postingan
Tentang Aku & Keberanian
Tak terasa sudah. Hari disulap menjadi minggu. Mingu disulap menjadi bulan. Bulan disulap menjadi tahun, dan tahun disulap menjadi sebuah bilangan angka yang menandakan bahwa aku sudah sampai pada usia dewasa. Terimakasih Tuhan telah Kau selesaikan misi demi misi hidupku satu persatu hingga aku sampai pada usia sekarang ini demi sebuah misi hidup baru lagi.
Terimakasih atas keberanian yang Engkau titipkan padaku, hingga aku berani membawa ragaku sendiri sampai di sini. Menapaki jejak yang tak pasti ini. Mencipta cerita tersendiri untuk diri. Mencipta rindu dalam hati yang masih belum tergenapkan oleh sebuah prasaaan. Dan lebih terpenting lagi, untuk tetap berani mencari sebuah penyelesaian atas sebuah pencarian untuk diri yang masih sendiri. Hingga tergenapi. Amin...
Tuhan, izinkan aku meracau dengan penaku tentang Aku & sebuah keberanian. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah ketakutan. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah kekawatiran yang teramat dalam. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah kekecewaan. Dan tentang jurus pamungkas untuk menenangkan sebuah rongrongan prasaan yang belum tergenapkan. Sampai kapan?
Tentang aku dan kebaranian adalah sebuah ungkapan yang belum terpecahkan hingga detik ini, karena ia adalah sebuah misi suci yang diperintahkan Tuhan sekaligus Nabi. Dan aku terlalu takut untuk mengungkapkan akan hal itu. Sampai kapan?
Biarkan sang waktu membantuku dalam sebuah misi baru ini.
Sebuah Ekspresi Diri
Sejak kau bersamaku. Tepatnya di tanggal 02 November 2014 kita akhirnya disatukan dalam kebersamaan. Dan sejak itu, kau benar-benar teman yang bisa memberiku sebuah hiburan yang mengikis dan menenggelamkan segala kegundahan. Jujur saja, sebelumnya aku sangat merasakan kegalauan dan kegundahan yang diam-diam menyiksaku secara perlahan, dan aku tak tahu bagaiamana caranya melampiaskan dan menghilangkan kegalauan dan kegundahan yang diam-diam semakin mengendap dalam diri bagai ampas kopi.
Dan kini, aku tak perlu sekalut dulu. Yah dulu, sebelum ada kehadiranmu. Kini kamu selalu setia berada di dekatku kemanapun aku pergi. Kita akan selalu bersama. Kita seperti sebuah prangko yang lengket dan tak terpisahkan. Dengan begitu, aku kapan saja bisa memandangimu dengan segala bentuk pandangan liarku, Dengan begitu, aku bisa kapan saja menyentuhmu dengan segala jenis sentuhan yang bisa ku mainkan. Dengan begitu, aku bisa kapan saja merabamu dengan berjuta desiran nafsu yang membara dalam diriku. Dengan begitu, aku bisa kapan saja menari-narikan jemariku di atas papan keyboardmu yang semakin hari semakin lembut saja kurasakan. Kau benar-benar membahagiakan.
"Terimakasih atas kebersamaanmu bersamaku sampai detik ini"
Doakan aku semoga aku bisa menjagamu. Merawatmu. Mencintai dan menyayangimu sebagai tanda syukurku pada Tuhanku. Karena segala sesuatu tak mungkin abadi kecuali dengan mencintainya, Dan cintalah yang akan selalu abadi meski yang dicinta telah pergi. Bijak.
Ia Teramat Suci
Prasaan diri kita cukuplah kita sendiri yang tahu. Simpan ia baik-baik dalam bejana hatimu. Jangan sampai bejana itu bocor lalu tercium oleh tikus-tikus busuk prasa. Ia adalah mahkota yang amat teramat suci untuk kita jual obral di pinggir jalanan dengan harga yang tidak sepantasnya. Maaf, terkadang kita sendiri yang ceroboh mengobral prasaan diri kita di 'tempat umum' yang justru diam-diam itu dimanfaatkan oleh tikus-tikus busuk prasa sebagagai cara untuk menjatuhkan kita. Sekali lagi ia amat teramat mahal untuk kita perjual belikan di 'tempat umum'.
Cukup hanya diri kita dan Tuhan yang Maha tahu akan prasaan yang bergejolak dalam diri kita, Jaga dia. Rawat dia. Manja dia agar menjadi sesuatu yang membuatmu bahagia di akhir penantiannya.
Cukup hanya diri kita dan Tuhan yang Maha tahu akan prasaan yang bergejolak dalam diri kita, Jaga dia. Rawat dia. Manja dia agar menjadi sesuatu yang membuatmu bahagia di akhir penantiannya.
Posted in racau
BUKAN ! BUKAN ITU
"Maaf." Hanya ucapan maaf yang bisa aku ucapkan dari kejauhan. Dari sini, dari tempat yang kini aku belum sempat beranjak. Dari sini, dari tempat yang saat ini aku tak bisa membayangkan warna raut wajahmu yang tetiba berubah saat aku putuskan 'obrolan' siang itu. Tetiba rasanya kau kesal, gusar dan mungkin sampai-sampai kau tak ingin lagi mengenaliku seperti dulu lagi yang suka manut dan menurut apa kata perintahmu. Maaf, hanya kata itu yang bisa ku sajikan dari kejauhan atas segala kekurangan, kehilafan dan mungkin ketidakberdayaanku untuk mengabulkan permintaanmu.
Seperti yang kau pernah bilang padaku waktu itu, 10 tahun yang lalu. Saat aku masih tumbuh sebagai manusia yang polos yang tak mengerti alur bicaramu. Tak memahami gaya bicara dan bahasamu. Atau lebih mudahnya aku yang masih manut dan nurut apa kata perintahmu. Sepuluh tahun lalu. Ku rasa kau ingat itu. Kau pernah mengatakan, bahwa setiap pribadi manusia akan memilki cerita tersendiri lima, enam, tujuh atau bahkan sepuluh tahun kedepan seiring bergilirnya waktu.
Kini, tepatnya sepuluh tahun aku berkelana membawa raga dan jiwaku menaiki puncak dan ketinggian. Juga menuruni lembah dan turunan. Mungkin tanpa kau sadari aku telah masuk dalam kerangka cerita dan ucapanmu sepuluh tahu lalu. Aku ingin membuat cerita tersendiri untuk hidupku lima, enam, tujuh bahkan sepuluh tahun kedepan, seperti katamu waktu itu. Aku ingin tak lagi hidup bergantung padamu. Aku ingin tak lagi memelas belas kasihan darimu. Aku tak ingin mendengar kata-kata nasehatmu lagi. Bukan, bukan aku ingin menutup rapat-rapat lubang telingaku tak ingin mendengar kata-katamu lagi. Bukan, bukan itu yang kumaksudkan. Tapi aku bosan dengan diriku sendiri yang hanya mendengar, merekam, membisu bagai patung seolah menjadi pendengar setiamu tapi tak pernah melakukan aksi nyata dari nasehatmu. Dan kembali hanya menyesali. Merenungi. Tapi diam tak berani aksi untuk benar-benar menjadi apa yang kau inginkan. Justru itu yang membuatku merasa tertawan. Terikat. Terkekang. Terpenjara. Atau bahkan kata-katamu hanya menjadi racun buatku, sehingga aku terlalu takut untuk tidak bisa menjalani hidup sebagai seorang laki-laki yang ditakdirkan oleh banyak keterpisahan dan kesendirian sejak sepuluh tahun silam.
Maaf, tak henti-hentinya aku ingin mengucapkan kata maaf padamu sebagai penekanan bahwa ini adalah tanda penyesalan dan sekaligus permohonan agar bisa dimaafkan atas segala kesalahan. Bukan, bukan aku tak ingin menuruti permintaanmu tapi aku ingin sekali bahagia tanpa lagi memelas belas kasihan darimu. Jangan, jangan kau minta aku untuk membalas budi atas kebaikanmu padaku. Sungguh ! sungguh sampai kapanpun aku tak akan bisa melakukan itu. Kau terlalu baik bagiku yang pernah tuhan ciptakan untuk sentiasa mengulurkan tanganmu saat aku jatuh, lemah tak berdaya.
Bebaskanlah Dia
ilustrasi image : deviantart.com
Pertengkaran kecil baru saja semalam terjadi. Akal sehatnya baru saja pergi, entah kemana ia pergi. Mungkin ia mencari aspirin yang bisa menyembuhkan luka lara di hatinya. Mungkin ia mencari sesuatu yang bisa meredamkan emosi tingkat tingginya. Mungkin ia mencari poros angin untuk mendinginkan kemelut panas di jiwa. Atau mencari sekepal bola salju di kutub utara untuk membekukan ingatannya pada pertengkaran kecil yang semalam baru saja terjadi. Kasihan.
Terlalu dini baginya untuk sakit hati dan menyakiti hati. Terlalu dini untuk menerima keputusan yang dia sendiri keukeh mencoba untuk mempertahankan. Terlalu dini baginya untuk memantik api pada jiwa yang ia sayangi. Sudah terlanjur nasi menjadi bubur. Untuk apa kau menyesali. Meratapi. Merenungi. Menangisi apa yang terjadi. Percuma saja kau berdo'a untuk diatukan dua jiwa yang berbeda, mustahil! Seperti kau berusaha menyatukan air dan minyak tanpa pengemulsi, kesia-sian belaka. Sudahlah berhenti untuk melakukan upaya tak ada makna.
Kau pasti ingat cerita seorang majikan yang mencintai burung peliharaannya. Ia begitu dirawatnya. Dikasih makan tak pernah kelaparan. Diberi minum tak pernah merasa haus dan dahaga. Dibersihkan kandangnya dari kotoran. Dihias sangkarnya. Begitu amat sangat cinta dan sayang ia pada burung peliharaannya. Namun, tahukah engkau? seandainya kau bisa memahami bahasa burung itu, mungkin dia akan mengatakan;
"Mencintai bukan berarti mengekangku. Menyayangi bukan berarti mengurungku.Mengasihi bukan berarti menyiksaku. Bukan mempenjarakanku dalam ruang sempit hingga aku tak berdaya. Bukan, bukan seperti itu"
Namun apalah daya, burung tetaplah burung yang ditakdirkan tidak bisa dipahami bahasanya oleh segenap manusia. Tapi coba kau lihat si pemelihara, ia tetap tersenyum. Senang. Bahagia karena ia tak bisa mendengar bahasa jiwa yang dicintainya. Padahal yang dicintainya mengeluh dan menangis darah. Begitulah cerita cinta.
Dan kau, masih belum bisa memahami apa yang baru saja aku ceritakan. Sudahlah bebaskan jiwa yang kau cinta. Jangan kekang dia. Jangan kau jeruji dia. Jangan kau penjara dia meski kau sebenarnya mencintainya. Ia ibarat burung yang senantiasa memohon pada majikannya untuk dibebaskan. Dilepaskan. Terbang bebas kemana dia suka. Dan sungguh kau mencintainya, iya kan?
Maka belajarlah kau untuk mncintai seseorang tanpa harus kau kekang. Belajarlah kau mencintai seseorang tanpa harus kau mempenjarakannya dalam tata ruang sempit yang hanya membuatnya tersiksa tak berdaya. Bebaskanlah dia. Yakinlah selama dunia belum hancur lebur. Di sana masih ada cinta. Cinta yang tidak dibungkus dengan kepalsuan dan kebohongan seperti cerita barusan.
Mereka Mendengarmu
image : Losari Beach 2014
Jika manusia tak sudi lagi mendengar semua keluh kesahmu. Menjadi pendengar setiamu. Menghayati
Menyelami dan ikut merasakan apa yan kamu rasakan. Maka ayunlah kakimu. Pijakan tapaknya pada
pepasiran landai putih nan bersih. Lalu pandanglah samudera lautan hijau di depanmu yang selalu gaduh
dengan riak ombaknya bergemuruh, membentuk irama yang menentramkan. Menenangkan. Mendamaikan
sekalius mensyahdukan. Kau akan merasakan ketentraman. Ketenangan. Kedamaian sekaligus menyejukan
hatimu yang sedang galau, risau. Seolah hijau laut dan riak ombaknya mendengar dengan seksama.
Meresapi dan merasakan apa yang terbesit dalam hatimu sebelum satu patah katapun terlempar dari
mulutmu.
SURAT UNTUK ADE
*Teruntuk ade yang jauh di pulau sana, sudah 12 tahun kita tak bersua :(
................
De, apa kabar? semoga tuhan yang baik hati senantiasa berbagi kasih untuk ade. Maaf abang baru bisa nulis surat lagi untuk ade. Abang hampir saja lupa sama ade, bayangin aja surat terakhir yang abang tulis dulu tahun 2006. Wah sudah sangat amat lama, jika di tulis dengan angka sudah 9 tahun abang tak kirim tulis surat, kirim surat dan bertukar kabar sama ade. Sekali lagi maafin abang ya de. Hening.
Oh, iya abang mau tanya, bolehkan...? sudah kelas berapa sekarang? terakhir abang denger sudah sekolah SMP, tapi abang lupa kelas berapanya. Tak penting kelas berapanya, yang penting ade semangat terus belajarnya. Jangan putus asa. Jika ade lelah, jenuh, malas maka obatilah dengan berwudhu lalu shalat 2 rakaat kemudian baca beberapa ayat qur'an, insyaallah jenuh, cape, males akan pergi dengan sendirinya dan akan datang semangat baru pada masanya. Itu juga yang abang sering lakukan di sini, ya di tanah perantauan. Abang masih ingat itu nasehat ayah pada kita sebelum ayah pergi meninggalkan kita semua selamanya, saat kita duduk bersama di sebuah ruang tamu yang hanya beralaskan tikar lusuh, abang harap ade masih ingat dan istiqomah melakukannya.
Oh, iya de, abang hampir lupa. Abang dulu sudah janji sama ade, abang akan belikan Hp baru. Sudah abang belikan nanti abang kasih ke ade kalo abang sudah pulang dari perantauan, insyaallah tahun depan.
Pesan abang ga muluk-muluk de, abang cuma minta ade tetap semangat belajar, ga ampang nyerah dan selalu optimis. Untuk biaya insyaallah abang siap bantu selagi abang mampu, meski tak mampu abang akan usahain biar mampu.
Cukup sekian surat abang untuk ade, semoga tulisan ini membuat ade senang karena ternyata abang tak lupa sama ade.
NOTES FROM MAKASSAR "Saingannya NOTES FROM QATAR -Muhammad Assad"
Untuk sahabat baikku Ahmad Solahuddin Al-Citeurepi di tempat dan umumnya teman-teman 8 graduated An-Nuaimy. Apa kabarmu bung saat senja mulai kembali keperaduannya? (baca: saat tulisan ini dibuat, senja jingga berkilapan di langit Makassar dan aku menikmatinya lewat jendela kamar terbuka), semoga tuhan yang penuh cinta senantiasa bermurah hati padamu sobat. Oh... iya hanya sekedar informasi saja, tulisan ini ku buat adalah bentuk janji ana ke antum yang pernah kluar dari mulut ana. Ana prnah mengatakan sama antum di detik-detik perpisahan sebagai teman yang akan pergi mencari seonggok jati diri untuk perbaikan dimasa depan nanti. Ku harap kau masih ingat itu.
Tak lupa ana manusia biasa yang banyak hutang, salah dan hilaf ingin mengucapkan "Mohon maaf lahir batin sob jika ada salah kata dan laku yang tidak berkenan di hati antum selama kita berteman". Semoga saja pinta dan harapku tulus begitupun maafmu. Sudah satu bulan lebih ana tinggal di Makassar sama rekan-rekan seperjuangan satu atap satu sepenanggungan. Jika kau bertanya tentang kabarku di sini ? alhamdulillah kabarku baik-baik saja sebaik persangkaanmu pada tuhanmu.
Dua hari lebaran iedul fitry berlalu, tapi belum ada momen indah yang bisa aku katakan dan ku ceritakan pada antum. Tapi ada sedikit cerita soal serba-serbi lebaran para pemuda di perantauan. Baiklah dengarkan aku bercerita lewat tanganku yang sibuk mengurai kata.
***
Suara azan bergemuruh melewati celah-celah rumah penduduk dan sampailah ke tempat dimana aku tidur pulas bersama teman-teman di sini, menandakan bahwa 1 syawal telah datang beberapa jam yang lalu, sekaligus itu bertanda waktu untuk mengagungkan tuhan kita telah tiba, aku pun shalat subuh. Oh iya sob, waktu di sini lebih cepat satu jam dari waktu dimana antum tinggal sekarang. Mungkin aku yang sudah bangun antum masih tertidur pulas sambil menata serpiahn mimpi-mimpi yang akan terbawa pergi keindahannya di bawa mentari pagi.
Tepat jam 6 pagi ana dan kawan-kawan beranjak dari tempat kami menuju lapangan besar di sebuah kota Makassar bernama Syekh Yusuf Discoveri yang bisa menampung ribuan manusia pagi itu. Kami hanya berjalan kaki kesana karena tidak trlalu jauh dari tempat kami tinggal. Karena pertimbangan macet dan harus bayar parkir motor pula yang membuat ana dan kawan-kawan mengayun kaki langkah demi langkah. 15 menit kemudian sampailah kami ketempat dimana pesta kemenangan shalat iedul fitry akan dirayakan. Karena ana lupa mmbawa sajadah, terpaksa harus mengurangi jatah sedekah yang sudah ana prsiapkan untuk membeli selebaran koran yang harganya seribu perak. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Sampailah pada sesi trakhir yaitu khutbah iedul fitry yang di sampaikan oleh da'i kondang sekalgus slebritis di media-media tv, ana yakin antum pun tau orang itu, baiklah ana kasih tau namanya ust. Taufiqurrahman, biar ga penasaran klik here.
***
Selesai. Kami pun kembali ke kandanng lagi. Disambung makan nasi plus kuah mie indomie campur telur hanya itu saja santapan pagi kami di hari raya iedul fitry, karena tidak ada ketupat atau pun lepat sayur yang bisa kami nikmati pagi itu. Derita pemuda di perantauan. Tapi kami mensyukuri. Antum bagaimana?
Sekitar jam 10 an, kami pergi ketempat salah satu guru akhwat yang juga mengajar di sekolah yang ana ajar, namanya ibu Rahmah. Dia masih muda dan belum menikah. Ana tau itu saat sesi perekenalan guru di sebuah rapat bersama para dewan guru. Cantik sih tapi tidak terlalu, namun yang jelas dia anak orang kaya.
Ana pun ternganga dan tak berhenti memuji tuhan yang kuasa saat ana dan kawan-kawan sampai di kediaman bu Rahmah. Rumahnya besar bertingkat, luas, bersih dan tertata rapih. Dan dipersilahkannya kami masuk lalu digiring ketempat meja makan prasmanan yang disana segala macam makanan ada, sempurna !. Namun sayang ana tidak bisa makan ketupat sayur banyak di sana, karena sudah terlalu kenyang makan di tempat kami yang hanya sekedar nasi plus kuah mie indomie. "Wah... kalo tau begini gua ga makan banyak-banyak tadi, disini ketupat banyak" bisik otak bulus ana sejenak setelah ku siuk kuah ayam bersantan.
Kenyang ! Kamipun pulang dengan prasaan senang. Senang bisa menatap dan bersalaman dengan guru akhwat tersebut hehehe :)
***
Day 2. Jam 2 siang ana dan kawan-kawan pergi ke pantai Losari dan sempat mampir ke Benteng Fort Rotterdam, sebuah musium peninggalan belanda kala.Ana dan kawan-kawan menikmati hari-hari itu sampai pukul setengah 6 sore saat senja berwarna jingga pekat. Saat sang surya kembali keperaduannya. Sungguh indah ciptaan tuhan tentang senja.
Dan usai shalat magrib, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju seorang ustadz dan juga direktur sekolah kami. Rencananya dia yang akan jemput kami setelah siang itu mendapat undangan langsung dari beliau,. Namun kami katakan biar kami yang kesana, itung-itung perkenalan dengan jalanan kota Makassar. Agar kami kenal kota Makassar dan keindahannya. Kami pun tiba di kediamannya, lalu disambut dengan hidangan ketupat ditambah sayur coto (sebuah nama soto orang makassar), hemmmm sungguh nikmat sampai-sampai ana dan saiful menambah untuk kesekian kalinya sampai ketupat di piringpun habis ludes dan terpaksa tuan rumah harus menghidangkan ketupat tambahan untuk kami. "Tau aja kalo lai laper habis jalan-jalan hehehe :) " .
Dan cerita serba-serbi lebaran pemuda perantauan pun habis sampai di sini. Semoga antum senang membaca tulisan ini, dan semakin mengeratkan tali persaudaraan ukhwah diantar kita semua. Untuk semua teman-teman 8 Graduated An-Nuaimy "yang sejatinya belom lulus" terimakasih atas segala doa-doa dan inspirasi hidupnya.
Salam dari ana dan kawan-kawan di sini, semoga kelak kita dipertemukan kembali pada momen bahagia.
Posted in cinta, lebaran 2014, racau, Sharing
Riak Ombak Pada Trumbu Karang 'Rapuh'
Ia berlari membawa sesal di hati. Tak peduli. Not care. Lari sekencang-kencangnya dari deburan ombak yang hanya setahun skali datang menyapa dan menerpanya, itu pun tak segemuruh ombak tsunami aceh dulu. Dia datang hanya ingin melihatnya. Hanya ingin bercerita dengannya. Hanya ingin merapihkan tumpukan pasirnya yang mungkin sudah kalang kabut akibat ombak lama tak bersua satu tahun lamanya dengannya. Hanya ingin memastikan bahwa ia masih bisa tersenyum. Bahagia. Tenang. Dan masih tertata rapih tepi-tepi pepasiran pantai di bibir hatinya. Hanya itu saja tujuan ombak ingin bersua dengannya. Aku kira kau seperti karang yang kokoh meski di terjang ombak biasa atau bahkan seganas ombak tsunami aceh dan jepangnya. Ternyata kau hanya terumbu karang yang mudah rapuh. Layu. Lunglai dan cepat-cepat lari bila ada ombak datang, menyelamatkan diri. Kau terlalu menyalahkan diri tanpa membaca dengan kacamata bijaksana. Sehingga yang tiimbul kau selalu salah memahamiku. Salah mengartikanku dan kemudian hanya seutas kata "Maaf" yg terlempar dari lisan lembutmu. Sekali lgi aku tak perlu kata maaf arimu lagi, memangnya salah apa kamu? lalu aku harus memaafkanmu? apa kau tahu jika aku memaafkanmu atau tidak sama sekali. sudahlah tidak ada drama 'maaf' untuk hari ini dan seterusnya. Cukuplah biar waktu dan karma yang akan menjawab siapa yg benar dan siapa yang paling benar diantara kita. Bukan siapa yang salah, karena kesalahan sudah sifat kita pada awal penciptaannya.
***
"Anggap saja aku sedang bicara sendiri pada riak ombak dan terumbu karang yang rapuh"
KEHAMPAAN
Ada keadaan dimana aku harus tertawa. Ada keadaan dimana aku harus menangis. Ada keadaan dimana aku harus berpura-pura tau. Ada keadaan dimana aku harus berpura-pura tidak tau dan ada keadaan dimana aku harus menarik diri dari silaunya dunia, keadaan dimana aku harus kembali tersungkur pada bumi, keadaan dimana aku harus menyepikan diri dari keramaian manusia, keadaan dimana aku harus mencoba menangisi diri sendiri, mencoba membawa diri pada situasi damai, mencoba menutup mata, menutup telinga dan mencoba menawan mulut agar tidak berbicara, itulah kehampaan.
Terkadang aku membenci sebuah kehampaan. Kehampaan jiwa akan rasa. Kehampaan jiwa akan rindu. Kehampaan jiwa akan cinta dan kehampaan jiwa pada tuhannya. Namun kehampaan tak selamanya buruk, terkadang aku butuh akan suasana hampa untuk menetralisir terlalu hiverbola kecintaanku pada seonggok dunia. Menetralisir sifat kerakusan pada diri jiwa. Menetralisir kecongkakan yang ada pada busung dada. Menetralisir sebuah rasa dan rindu berlebihan yang terkadang membuatku tertawan sejuta laku dan kata.
Hampakanlah jiwamu dari kecongkakan dan kesombongan tanpa harus membenci yang sepatutnya kau benci.
Hampakanlah jiwamu dari kedengkian tanpa harus mendengki orang yang sepatutnya kau dengki.
Hampakanlah jiwamu dari rasa rindu yang tak tersampaikan tanpa harus mencaci orang yang kau rindukan.
Hampakanlah jiwamu dari segala penyakit hati yang membuatmu mati sebelum kau mati pada waktunya.
"Tuhan aku merindu kehampaan jiwa dari yang tidak kau sukai atas jiwa ini"
AKU
AKU
(Sebuah kontemplasi untuk manusia bernama Aku)
Siapa Aku? tanyakan saja pada dirimu ! tak usah orang lain menebak-nebak tentang siapa dirimu karena pasti mereka tak tau tentang dirimu. sudah kau bertanya pada diri sendiri? jika belum tanyakan segera sebelum ada orang lain dengan lancang menebak-nebak akan dirimu lalu kau tak suka itu.
Dari mana Aku? hay... Kau macam manusia tak bertuhan saja ! Ingat umurmu sudah tak lagi muda bung, jangan lagi kau sibukkan dengan pertanyaan itu lagi. Mungkin kau lupa membaca asal muasal bapakmu 'Adam' dan ibumu 'Hawa'. Kau pikir mereka mampu mewujudkan diri mereka tanpa ada dzat yang Maha segala-galanya? sudahlah, lebih baik kau baca cerita asal muasal kehidupan bapak dan ibumu sebelum nanti pikiranmu menjelma tuhan lalu kau dibuat sesat oleh pertanyaan filsafatmu sendiri.
Hendak kemana Aku? Kau macam manusia tak beragama saja ! masih saja kau bertanya hendak kemana dirimu. Mungkin kau lupa membuka lembaran-lembaran suci di sana ada sebuah peta perjalanan yang bisa menunjuki arah kemana kau akan pergi. Sudah sana buka lembaran-lembaran suci itu sebelum ada makhluk asing memegang tanganmu lalu memutar arah balik tujuan hidupmu.
"AKU RINDU ABAH"
by. Edie
Kerinduan kini kembali, kembali ingin mengenangmu, kembali ingin mengingat-ingat raut wajahmu, kembali ingin aku bernostalgia bersamamu kembali ke masa lalu kita, kembali ingin sekali bertukar kabar soal kita, Abah. Begitulah aku dulu memanggil sosok laki-laki yang tegar dengan segala carut marut kehidupan masa lalu. Sosok yang kesabarannya tak bisa ku ikuti saat aku jatuh dan menyerah pada kejamnya dunia. Sosok laki-laki miskin papa namun kami dibuatnya penuh ceria dan bahagia. Sosok yang dulu akrab memegang tanganku setiap pagi untuk mengantarku pergi ke sekolah. Sosok yang selalu dingin, mampu menyembunyikan kesulitan hidup lalu mencoba tersenyum pada kami. Abah aku merindukanmu.
***
Bah, entah sudah berapa kali ramadhan kita lewatkan, berapa kali pula iedul fitri kita lewatkan tanpa ada lagi sebuah kebersamaan. Bah, aku merindukanmu di sini, aku yakin Abah juga merindukanku pastinya. Tapi aku tak pernah tau cara Abah merindukanku, biarlah itu bukan masalah buatku, yang terpenting Abah baik-baik saja di sana. Mungkin Abah ingin tau bagaimana cara aku merindukan Abah, baiklah biarkan aku bertutur, semoga Abah mendengarnya di sana.
Bah, sebelumnya terimakasih sudah menyekolahkanku dan sekaligus membiayaku. Mulai dari seragam merah putih, seragam pramuka, buku tulis dan pensilnya. Untuk tas, tak mengapa Bah aku rela dulu hanya beranselkan plastik hitam tebal tanpa ada merk tertulis apapun di sana, lalu setiap hari ku penuhi kantong plastik tasku buku-buku tulis dan pelajaran yang terkadang menjadikannya beban dan bahkan setiap minggu aku harus ganti tas kresek hitamku dengan yang baru. Sungguh keren kan bah, disaat anak-anak yang lain masih menggendong tas lamanya aku setiap pekan sudah menjelma menjadi baru seutuhnya. Jangan menangis bah, ini bukan salah abah kok yang tidak bisa membelikan tas baru, aku tau bah, kesulitan hidup saat itu menyelimuti keluarga kita. Sehingga uang abah tak cukup untuk membelikan tas baru dihari pertama aku duduk di sebuah bangku dasar untuk belajar menulis, membaca, bercerita dan menghitung angka-angka logika. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk semua cinta, kasih sayang dan pengorbanan buat keluargamu, tak terkecuali aku. Dan aku telah memahami itu semua.
***
Bah, aku merindukanmu di sini, oh iya aku tadi janji ingin bercerita bagaimana caraku merindukanmu yang sudah tak hadir lagi di alam yang kini aku masih bernafas di sana. Bah, tau tidak, aku sekarang sudah bisa menulis, membaca , bercerita dan menghitung angka-angka logika yang dulu sekali aku pelajari dan kini aku memahaminya, itu pun tak lepas dari jerih payah Abah yang siap memutar posisi kaki di kepala dan kepala di kaki. Bah, banyak cara bagaimana aku mengekspresikan kerinduanku padamu. Misalnya aku banyak berdo'a untuk Abah semoga sayap-sayap rahmat-Nya selalu menyelimutimu dari kengerian alam yang belum pernah sama sekali kau hidup bersamanya. Dari kegelapan yang setiap saat memberi rasa khawatir dan kengerian . Dari kesempitan yang kapan saja bisa menghimpit jasad Abah yang sudah lemah dan rapuh. Dari panasnya keadaan yang memang tiak ada ventilasi udara di sana. Dari pertanyaan-pertanyaan dua sosok yang aku dan Abah belum pernah melihat sebelumnya di dunia. Selain do'a, aku juga berusaha untuk menjadi anak yang baik, bisa memberi manfaat pada sesama sehingga menghasilkan kebajikan dan itu semua aku berikan untukmu bah. Bah, ada satu cara bagaimana aku merindukanmu yaitu dengan menulis, yah menulis sudah menjadi bagian ruh kehidupanku selama ini bah. Inilah hasil jerih payah Abah yang sudah 'memaksaku' untuk belajar menulis abjad dari A-Z ketika malam tiba, bersama kaka yang selalu setia mendampingi.
Bah, kini aku banyak menulis tentang Abah di catatan lembar-lembar putih bersih lalu kemudian berubah menjadi lautan tinta berisi kata-kata mutiara. Bah, hanya inilah caraku merindukanmu dari alam yang jauh dan mustahil Abah bisa menjamahnya. Bah, hanya menulislah caraku bercerita dan mengulang kembali cerita masa lalu di antara aku dan Abah. Bah, hanya dengan menulislah aku bisa bertukar kabar dengan abah, seolah kita sedang asik duduk di sebuah kursi panjang lalu berdialog mesra dengan bahasa lisan dan tubuh kita. Bah, hanya dengan menulislah aku seolah bisa merasakan apa yang sedang Abah rasakan di sana. Bah, dengan menulis pulalah yang menjadi pelipur laraku di saat aku jatuh sakit dan disaat yang sama aku membayangkan raut wajahmu sambil tersenyum memandangi wajahku, lalu seolah Abah berbisik kepadaku "Semoga cepat sembuh ya nak...".
"Bah, taukah engkau kenapa anakmu hanya bisa menulis disaat dia merindukanmu? karena tidak ada satu potopun tentang Abah yang bisa kunikmati, ku kenang dan kupandangi saat aku jatuh rindu padamu"
Posted in cinta, Galau Modeon, racau
KAMU KAH ITU ? "Sebuah peperangan batin"
Pagi ini aku bangun dengan sebuah kegalauan. Bermula dari sebuah mimpi semalam yang berakhir menyakitkan. Aku adalah orang yang tak percaya akan sekenario sebuah cerita dalam mimpi, yang hanya berawal dari sebuah utopis belaka tak bermakna saat aku berpijak di alam nyata. Mimipi adalah racun tidur buatku, bukan sebuah bunga harum yang menghiasi tidurku. Sejak kapan sebuah mimpi merubah sekenario hidupku di alam nyata yang sudah ditata serapih mungkin oleh sang Maha penata sekenario abadi, tuhan berkuasa atas hidupku dan hidup orang-orang yang mengaku hidup padahal hakikatnya dia mati, karena tak ada kebaikan dalam hidupnya.
Lagi-lagi kamu yang datang menyambangi tidurku malam tadi, sudah Aku katakan Aku bosan dan muak sama kamu, jauh-jauh dan jangan pernah lagi berusaha hadir dalam tidurku. Sudah kesekian kalinya aku membencimu bahkan dengan sumpah serapah tapi kamu belum juga paham maksudku. Atau jangan-jangan kamu masih kangen dan rindu padaku sehingga diam-diam kamu menyusup lewat celah-celah tidurku, ah... kepedean !
Aku pernah bilang sama kamu, kalau aku bukan type orang yang percaya sama dukun, zodiak bahkan mimpi ! sekalipun isinya cuma kamu, tetap saja aku tak percaya, aku takut mereka mengotori kesucian imanku. Tapi pagi ini aku mulai bertanya-tanya, akankah ada makna atau arti yang tersimpan dalam mimpiku tentangmu malam tadi? atau hanya otak bulusku saja yang diam-diam menggerogoti keheningan malamku. Yang jelas aku masih tetap pada prinsipku, aku tak percaya akan cerita mimpi yang dibungkus sebuah kegaiban palsu belaka. "Tapi orang-orang dulu bermimpi dan percaya akan mimpinya", itu bukan mimpi tapi wahyu dari tuhan. Dan kamu bukan wahyu atau pun bunga tidur melainkan sebuah siluet yang membuatku tak berhenti bertanya-tanya tentangmu.
Tulisan ini untuk wanita bidadari tanpa sayap yang jauh di sana, yang karenanya aku selalu bertanya-tanya, "Akankah kamu yang menjadi bidadari dunia dan akhiratku? atau hanya permainan cinta di alam mimpi yang hanya didasari utopis belaka tak ada makna".
Sebuah Jawaban Tertunda
Sungguh sulit cinta diartikan, dimaknai atau diterjemahkan. Seribu bahasa dan kosa kata yang ada didunia ini pun rasanya tak sanggup memaknai cinta yang sebenarnya. Itulah cinta, sebuah kata yang menyimpan ribuan misteri dan makna. Ketakutan itulah yang membuatku tak siap menjawab pertanyaanmu kala waktu itu, "Apa arti cinta menurutmu dan arti aku dimata cintamu ?" kitapun saling bertatapan mata satu dengan lainnya seolah memberi isyarat akan ketidak mampuan bahasa lisanku untuk mendeskripsikan cinta. Aku pun hanya berbisik dalam hati, "Cinta itu adalah Aku dan Kamu", lagi-lagi mulut ini bisu dan kelu takut ingin mengucapkan karena masih ada rasa keraguan di sana. Lagi-lagi aku hanya berbisik diam dalam hati "Cinta itu isyarat" isyarat yang menunjukan bahwa Aku dan Kamu sama-sama berhak memiliki atas cinta, namun lagi-lagi aku kalah tak berani katakan itu semua saat Aku dan Kamu masih saling bertatap mata, kala itu.
Sekian lama aku menggali makna cinta, satu persatu arti cinta bermunculan di kepalaku yang tak habis pikir kenapa berani mengartikan cinta, tidakkah merasa takut akan menyalahi para ahli dan pujangga cinta? aku hanya melengos dan kini aku ingin memberi jawaban atas pertanyaanmu kala itu, karena kamu tak lagi di sisiku untuk selamanya, mungkinkah.
Cinta adalah isyarat, isyarat bahwa Aku dan Kamu sama-sama berhak memiliki atas cinta atau tidak sama sekali, dan ini terbukti. Cinta adalah jarak, jarak antara Aku dan Kamu yang akan menghasilkan halusinasi rindu atau tidak sama sekali. Cinta adalah menjaga, menjaga prasaanmu, menjaga prasaanku dan kita sama-sama menjaga, atau tidak sama sekali. CInta adalah kesiapan, kesiapan hati kita untuk sakit saat aku dan kamu tak lagi menjaga komitmen, kesiapan untuk merawat cinta yang perlahan tumbuh dan bersemi degan keadaan, atau tidak sama sekali.
Cinta itu perpisahan, sebuah keniscayaan jika kita bisa dipertemukan kenapa mustahil untuk kita dipisahkan. Dan cinta yang hakiki adalah cintamu pada tuhanmu yang rela telah berbagi cinta pada hati-hati hambaNya.
Oh.. Palestina Maafkan Kami Melupakanmu
Palestina oh... palestina, maafkan kami umat islam di indonesia sejenak meluapakanmu di sana. Sungguh kami menyesal telah melupakanmu hanya karena di negeri kami sedang terjadi hiruk pikuk soal pemilihan presiden yang akan memimpin negeri kami 5 tahun kedepan. Kau ingin mendengar berita dari negeri kami? pasti kau ingin mendengar meski bukan cerita yang ingin kau dengar melainkan tindakan nyata kami. Izinkan kami bercerita kepadamu wahai palestinaku.
"Indonesia, yah sebuah negeri yang untuk memerdekakannya butuh pengrbanan luar biasa, nyawa, harta benda dan darah para bapak, ibu dan pejuang negeri ini ditumpahkan untuk menebus negeri ini dari jajahan para penjajah. 350 tahun kami dijajah, bayangkan bagaimana dulu orang tua kami yang mengkhawatirkan anak-anak gadisnya di culik, diperkosa, dijual dan dibunuh dengan mengenaskan. Terlalu mengerikan untuk kami sebagai generasi negeri ini memikirkan dan membayangkannya. Mungkin orang tua kami dulu tak sempat tidur pulas karena banyak pemberontakan dimana-mana. Indonesia, ya sebuah negeri yang banyak rang mengatakan surganya dunia, karena segala macam-macam rempah ada di indonesia, inilah motivasi tangan-tangan penjajah datang dan menhancurkan negeri kami yang kaya untuk menguasai kekayaan negeri kami yang ada.
Alhamdulillah... berkat pertolongan Allah SWT., perjuangan keras para mujahid negeri ini akhirnya terwujud, tahun 1945 atau bertepatan dengan 17 ramadhan Indonesia berani mengangkat suara dan memproklamirkan kemerekaan negaranya kepada seluruh dunia di tengah-tengah sedang memanasnya situasi dalam dan luar negeri. Hai palestina kamu tau kenapa kami sangat mencitai dan menghrmatimu? bukan hanya kita sama-sama beragama islam, bukan hanya kita memiliki panduan kitab yang satu, bukan hanya nabi kita satu, bukan hanya kiblat kita satu, bukan hanya tuhan kita satu, bukan hanya sejarah islam kita satu, tapi lebih dari itu kaulah Palestina negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia negeri kami tercinta disaat negara-negara lain membenci dan enggan mengakui kemerdekaan Indonesia, tapi Kau Palestina suara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu kami berhutang budi pada anda, sampai kapanpun kami akan tetap membela kau palestina meski negara-negara lain 'jijik' dan enggan membela hak-hakmu di tanah alquds palestina.
Kini nasib bangsa kami sedang diperebutkan oleh dua sosok yang sungguh jauh berbeda seperti langit dan bumi. Negeri kami sedang menghadapi peperangan luar biasa, isu SARA dan isu-isu masa lalu sedang heboh di negeri kami untuk saling menjatuhkan satu sama lainnya. Perang ideologi juga hidup di sini. Kami umat islam indonesia takut dan khawatir jika pemimpin yang terpilih nanti adalah pemimpin boneka Zionis Israel, Yahudi dan Amerika Serikat dan sekutunya yang tidak akan berpihak terhadap perjuangan dakwah islam di negeri kami tercinta, kami khawatir akan itu semua. Dalam kondisi yg sama kami pun slalu optimis bahwa sosok yang kami dukung akan memberi ruang bagi perjuangan dakwah islam nusantara ini, insyaallah pemimpin yang kami dukung keberpiahakan terhadap islam luar biasa. Kami minta doamu wahai palestinaku."
Mungkin itu sedikit cerita dan celotehan kami, semoga kau mendengarnya disana.
Sekali lai kami minta maaf atas kelalaian kami melupakanmu sejenak. Di saat kami disini asik menjalankan puasa ramadhan penuh dengan ketenagan dan ketentraman, jamuan-jamuan yang setiap hari berganti memenuhi perut-perut kami, dan kau Palstinaku di sana, kau menjadi bulan-bulanan para pencari tanah dan penjajah zionis Israel, Yahudi dan Amrika, diam-diam kau di berangusnya, kau di teror, kau di hujani peluru, dibakar rumah-rumah pemukiman yang tak berdosa, dirampas harta benda, di ambil paksa anak-anak kecil, bayi dan para wanita lalu dibinasakan dengan pleuru-peluru neraka. Oh... kami tak bisa membayangkan itu semua wahai Palestinaku, sekali lagi maafkan kami. Belum cukup itu semua disaat ramadhan seperti ini, kalian berpuasa menahan lapar dan dahaga, dan kami tau bukan saja kalian berpuasa di bulan ramadhan tapi setiap hari, setiap minggu, setiap, bulan dan setiap tahun kalian berpuasa menahan lapar dahaga sambil di hujani peluru-pluru dari neraka menembus perut, kepala, jantung dan rumah-rumah kalian yang begitu amat sederhana. Oh... Palestinaku, sekali lagi maafkan kami.
Besar harapan kami, pemimpin yang akan memimpin negeri kami mmbawa angin segar untuk kalian rakyat palestinaku. Aamiin.....
Posted in Dunia Ukhwah, Palestina, racau, Ramadhan, Sharing
Safari Dakwah #Makasar Part 1
"Ed ! Ed ! Edi bangun !" Suara itu membuatku terbangun dari tidurku, kaget!.
"Emang jam berapa akh Sugeng sekarang?" mataku masih terkesiap, perlahan aku terbangun sambil ku kucek-kucek mataku.
"Jam setengah tiga kurang, buruan bangun ! jam tiga kita berankat"
"Iya iya... yang lain udah pada bangun? akh Iful sama Rahmat"
"Udah, tinggal ente aja nih, makannya buruan bangun ada waktu setenah jam lagi buat prepare, kemas baran-barang ente yang belum dikemas"
"Iya nanti ane mau mandi dulu"
"Ok, GPL (ga pak lama)"
Jujur saja aku masih ngantuk sebenarnya, aku tidur terlalu larut malam karena ada pertandingan piala dunia antara Argentina vs Nigeria. Argentina keluar sebagai pemenang.
"Seger...."
"Dah mandi ente?"
"Udah lah.... taksinya duah dateng belum geng?
"Nih lagi mau ane telpon, kalo dah dikemas barang-barang ente, langsung aja bawa ke bawah aja"
*********************
Jam di Hp-ku menunjukan pukul 02:55 pagi, dua taksi putih sudah datang menunggu di halaman depan kampusku. Pagi ini bukan saja Aku, Sugeng, Rahmat dan Saiful yang akan chek in ke bandara Soekarno, ikut juga pagi ini Fatoni dan Zulfan. Rencanya Fatoni akan terbang ke kota Jambi dan Zulfan ke Aceh, sedangkan aku dan 3 temanku terbang ke kota Makasar.
"Toni, Zulfan sama ane di taksi ini" kata ku sambil menutup bagasi taksi.
"Ya udah Rahmat, Saiful sama ane" sahut Sugeng.
Tepat pukul 03:00 pagi taksi yang kami tumpangi perlahan melaju dan meninggalkan halaman kampus kami.
Pendar-pendar lampu malam menghiasi perjalanan kami sepanjang jalan, tak lama taksi yang kami naiki memasuki tol dan melaju begitu cepat.
"Fan, kirain ane ente ke Jandal bekasi" kataku pada Zulfan.
"Iya sih tadinya ane mau ke Jandal, tapi gara-gara syekh Fuad ane ga jadi ke Jandal malah di suruh ke Aceh" jawab Zulfan dengan sedikit rasa penyesalan di wajahnya.
Sepanjang jalan aku hanya bercakap-cakap dengan Zulfan, sedangkan Fatoni melanjutkan tidurnya yang berada di depan, samping pak sopir.
Dan taksi pun melaju cepat mengiris jalan.
***********************
Pukul 04:10 pagi kami tiba di bandara Soekarno-Hatta tepat di pintu masuk armada Sriwijaya Air.
"Alhamulillah, sampai juga kita" tuturku.
"Mas silahkan periksa dulu barang-barang bawaanya, takut ada yang ketinggalan di bagasi atau di dalam taksi" kata pak Hanif memberi tau kami.
"Akh Toni tolong ambilin troly tuh!" perintah Rahmat sambil menunjuk ke arah Troly.
Dengan sekejap troly pun penuh dengan koper, tas dan dus. Kami pun segera menuju ke tempat pembelian tiket untuk menukarkan kode boking tempat yang sbelumnya sudah kami bayar tapi belum sempat di print out. Lepas dari situ, kami menuju tempat penimbangan barang-barang bawaan yang hendak di taruh di bagasi pesawat, satu persatu koper dan dus kami di timbang, sedangkan tas dan barang bawaan yang sekiranya enteng kami bawa ke kabin pesawat.
Usai semua tas dan barang--barang kami melewati chek scurity, kami pun berlanjut menuju boaring pass dan membayar dengan uang Rp. 40.000 rupiah. Usai selesai boarding pass kami semua duduk di tempat tunggu pemberangkatan sambil menonton pertandinan piala dunia antara Francis vs Equador yang berhasil imbang 0-0 sampai laga usai.
Sekian menit menunggu, terengar suara pemberitahuan bahwa armada kami akan segera berangkat. Aku dan teman-temanku segera berjalan cepat untuk antisipasi mengantri di pintu pemeriksaan tiket masuk.
Pukul 04:30 pagi armada pesawat kamipun lepas landas membumbung di angkasa. Sempat merasa shok dadaku saat pesawat menjulang dan menanjak tinggi karena ini awal pertama kalinya aku naik pesawat.
Sungguh bgitu indah kekuasaan Tuhan saat kami berada di atas awan, begitu indah awan untuk di saksikan mata telanjang.
Pukul 09.10 pagi kami pun tiba di airport sultan hasanudin dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun.
Lewat perjalanan ini, aku hanya ingin mengatakan betapa menyenangkan perjalanan dakwah ini.
Posted in Dunia Ukhwah, Menulis lepas, racau, Sharing
PERPINDAHAN
Kehidupan identik dengan perpindahan. Perpindahan dari satu masa ke masa yang lain. Perpindahan dari tempat satu ke tempat yang lain. Perpindahan dari cinta ke cinta yang lain. Perpindahan dari hati ke hati yang lain. Perpindahan dari dunia fana' ke negeri akhirat yang baka. itulah sinopsis tentang sebuah kehidupan yang berlaku bagi semua makhluk tuhan di dunia ini.
Kehidupan tak selamanya manis juga tak selamanya pahit. Tak selamanya bahagia juga tak selamanya menderita. Terkadang di saat kondisi yang pahit justru ia membuatnya manis, saat kondisi berduka justru ia membuatnya bersuka cita. Kok bisa? karena kehidupan kaitannya erat dengan kondisi iman dalam dada. Spiritual keimanan akan membentuk karakter dan mimik seorang saat ia berada dalam zona manis atau pun pahit, bahagia atau pun menderita.
piritual keimanan hanya di dapat dari kecintaan kita pada tuhan, ketaatan kita pada tuhan, kedekatan kita pada tuhan serta pengamalan kita pada kebenaran.
Spiritual keimanan tak selamanya signifikan, terkadang ada waktunya yang membuatnya stagnan, di saat kondisi seperti inilah kita harus berani melakukan 'perpindahan' atau dengan kata lain you must hijrah, hijrah dari kurang taat menjadi lebih taat, malas menjadi rajin, pesimis menjadi optimis perlahan barometer spiritual akan mengalami signifikan.
اللإيمان
يزيذ وينقص يزيذ باالطاعة وينقص بالمعصية
Posted in Artikel, Dunia Blogger, racau, Sharing
Don't Scared !
Jangan pernah takut
Akui
Lalui
Dan jangan pernah takut
Ketakutanmu akan membuatmu layu
Ketakutanmu akan membuatmu kaku
Akui
Lalui
Dan jangan pernah takut
Ketakutanmu akan mmbuatmu kerdil
Ketakutanmu akan membuatmu kecil
Akui
Lalui
Dan jangan pernah takut
Ketakutanmu hanya akan membuatmu ragu
Ketakutanmu hanya akan membuatmu bisu
Akui
Lalui
Dan jangan pernah takut
Whats up bro !
Dosen killer gua berulah lagi kaya anak kecil aja. Bel ganti jam pelajaran bunyi nyating banget dari idaroh. Itu tandanya kalo ga istirahat ya masuk kalo ga masuk ya pulang.
Hawa di kelas sumpek abis, bayangin aja di kelas gua di isi sama 42 mahasiswa. Gila mana sempit tuh kelas bikin sesek napas aja. Udah gitu kalo mahasiswa kentut, baunya lama banget perginya soalnya udara terlalu kedap, dan akhirnya siap-siap pingsan satu kelas.
Dosen killer datang. Semua mata tertuju ke dia, yang tadi pagi ngantuk terpaksa matanya harus pake sabuk pengaman biar enggak ngantuk dan... "plakkk...!" Telpak tangan segede gajah terhempas di pundak loh dan siap-siap diintrogasi di tempat. Ga mau kan loh? Pesen gua siap-siap mata loh pake sabuk pengaman !.
Matahari dah meninggi, hawa dikelas udah mulai panas. Matakuliah hari ini Balagoh. Yang ga ngerti apa itu balagoh ? Gampangannya balagoh itu; ilmu seni bahasa, ilmu majas, ilmu yang ngebahas tentang keindahan tulisan dan ucapan. Ribet banget ya ! Gampangannya ilmu sastra. Di matakuliah ini gua di ajarin syair, sajak, gurindam and puisi kalo gua versikan ke bahasa indonesia.
Dosen itu mulai berkoar nyerocos. Sebelum pelajaran di mulai seperti biasa dia bakal mukodimah tapi mirip khotbah, why ? Coz... lama banget.
" Ma'akum kitab ?"
" Na'am ustadz....!" Serempak jawab mahasiswa dengan semangat terpaksa.
Dosen killer gua itu orangnya ga percayaan ke anak didiknya, akhirnya semua di fattis.
" Aina kitabuka ?"
" Hadza ustadz... " jawab temen gua. Dan sekarang giliran gua, gua sih PD aja, soalnya gua bawa bukunya. Eh... ternyata, buku gua di ambil sama dia. Alesannya, buku gua itu buku versi lama dia pengen buku versi baru yang di potocopy kolektiv sama temen gua Agung namanya.
Gua ga nyangka dia bakalan marah sama gua, gara-gara gua maenin saat dia mau ngambil buku dari gua, spontan gua di semprot pake kalam panas....
Dan tahun ini gua di cap pemalas kalo bahasa arabnya kaslan ! Parahkan ?! Dan entah sampe kapan gua ngerasa enek dan kaya ada benalu dalam diri gua kalo dosen killer itu lagi ada kelas sama gua.
Semoga aja Tuhan ampuni dosa-dosa gua yang udah berani terselubung sama dosen gua yang satu ini.
"O my God ampuni ane yah...."
Posted in Galau Modeon, racau
Must Go On !
Banyak sekali di dunia ini yang gua takuti. Ada hal-hal yang membuat gua takut untuk melangkah. Banyak hal yang membuat gua takut untuk melangkah satu langkah saja. Banyak hal yang membuat gua kecewa. Banyak hal yang membuat gua putus asa. Banyak hal yang tidak bisa gua cerna dalam hati dan pikiran gua. Banyak waktu yang menjadi korban atas perbuatan gua. Banyak hal-hal yang kecewa dengan yang udah gua lakuin. Banyak anak manusia yang menangis karena sikap gua. Banyak hal yang membuat gua takut untuk melupkan itu semua, entah, ada sesuatu dalam diri gua yang berbisik jahat dan berbisik baik, tapi bisikan kebaikan gua selalu terkalahkan oleh bisikan keburukan gua. Gua selalu berharap ada malaikat kebaikan yang selalu nasehatin gua saat gua galau. Putus asa. Jenuh. Bad mood. Saat gua jatuh dalam jurang keburukan. Sehingga gua kembali semangat. Kembali bangkit. Kembali hidup. Kembali berlari dan tegak. Kembali merancang masa depan gua yang sudah beberapa tahun ini tumbang dan jatuh. Tapi sayang malaikat kebaikan itu tak pernah kunjung hadir dalam hidup gua. Tak kunjung menyapa gua saat gua galau. Dan akhirnya gua hanya bisa merenung, menangis dan bahkan putus asa. Tapi gua masih berterimakasih ternyata gua masih punya Tuhan, dan Tuhan masih sayang sama gua meski gua setiap saat berbuat maksiat sama Dia. Sumpah ! Suer ! Tuhan gua baik banget. Tuhan gua the best dari semua orang yang gua kenal di dunia ini.
Semoga saja gua cepet bangkit lagi. Cepet sadar. Cepet menata yang sudah kadung berantakan dalam hati dan pikiran gua. Karena dalam prinsip hidup gua Life must go on ! Gua ga boleh stop. Gua ga boleh berhenti begitu saja. Gua ga boleh nyerah dengan keadaan yang sesaat bisa menipu gua. Gua ga boleh satand up di satu tempat saja. Gua harus dinamis. Gua harus yakin kalo gua Can do it ! Semangat buat gua. Semangat buat loh. Semangat buat antum semangat buat anda semua. Salam spirit !
Posted in Galau Modeon, racau
Diberdayakan oleh Blogger.


















