Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Semoga Saja
Teruntuk rintik hujan yang rinainya mulai menjelma sesuatu yang ku rindu. Tuhan, aku merindunya di bawah rinai hujan dengan damainya malam ini. Kusadari, percakapan yang terjadi malam itu, akibatnya hanya menabur garam luka pada setiap inchi luka di hati. Hanya akan menjadi diri kami sendiri seolah kami melupakan satu sama lainnya. Hanya akan membuat sekat dan jarak di ruang hati masing-masing diri. Hanya akan membuat sepi diri sendiri tanpa interaksi. Hanya akan .....
Teruntuk rembulan yang sinarnya redup malam ini mulai menjelma sesuatu penuh duka. Tuhan, aku meyesalinya walau Engkau tahu aku tak sedang menginginkannya. Hanya saja masih ada luapan kerinduan yang membuncah dalam dada yang diam-diam memerangi dan menyayat hati, karena sebuah imaji sejati.
Teruntuk langit yang gelap tanpa cahaya. Dan aku yakin di sisi lain dari dirimu masih ada sebongkah cahaya yang memberi harapan pada hati-hati yang mulai meranggas dan putus asa. Dan ku berharap, harapan itu masiha ada.
Samapai kapan?
Posted in cinta, Galau Modeon, Prosa., puisi, renungan
Tentang Aku & Keberanian
Tak terasa sudah. Hari disulap menjadi minggu. Mingu disulap menjadi bulan. Bulan disulap menjadi tahun, dan tahun disulap menjadi sebuah bilangan angka yang menandakan bahwa aku sudah sampai pada usia dewasa. Terimakasih Tuhan telah Kau selesaikan misi demi misi hidupku satu persatu hingga aku sampai pada usia sekarang ini demi sebuah misi hidup baru lagi.
Terimakasih atas keberanian yang Engkau titipkan padaku, hingga aku berani membawa ragaku sendiri sampai di sini. Menapaki jejak yang tak pasti ini. Mencipta cerita tersendiri untuk diri. Mencipta rindu dalam hati yang masih belum tergenapkan oleh sebuah prasaaan. Dan lebih terpenting lagi, untuk tetap berani mencari sebuah penyelesaian atas sebuah pencarian untuk diri yang masih sendiri. Hingga tergenapi. Amin...
Tuhan, izinkan aku meracau dengan penaku tentang Aku & sebuah keberanian. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah ketakutan. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah kekawatiran yang teramat dalam. Tentang cara jitu untuk melawan sebuah kekecewaan. Dan tentang jurus pamungkas untuk menenangkan sebuah rongrongan prasaan yang belum tergenapkan. Sampai kapan?
Tentang aku dan kebaranian adalah sebuah ungkapan yang belum terpecahkan hingga detik ini, karena ia adalah sebuah misi suci yang diperintahkan Tuhan sekaligus Nabi. Dan aku terlalu takut untuk mengungkapkan akan hal itu. Sampai kapan?
Biarkan sang waktu membantuku dalam sebuah misi baru ini.
SELAMAT UAS ADIK-ADIKKU
Catatlah baik-baik adik-adikku sayang. Ujian yang akan kalian jalani besok di sekolah bukanlah sesuatu yang mengharuskan kalian membaca bulak-balik setiap halaman buku yang akan diujikan. Bukan pula mengharuskan kalian tidur lebih larut dari biasanya hanya kerena sibuk dengan muraja'ah pelajaran yang akan diujikan. Bukan pula mengharuskan kalian harus duduk berlama-lama bersama sekawanan buku-buku pelajaran yang sebenarnya itu jarang kalian lakukan sebelumnya, "May be". Bukan pula mengharuskan kalian sibuk mengernyitkan dahi karena khawatir rumus-rumus dan materi hafalan tiba-tiba blank bagitu saja esok hari. Bukan pula mengharuskan kalian cuek pada orang lain di sekeliling kalian hanya gara-gara tak ingin ada orang lai yang membuyarkan konsentrasi yang sudah bulat padat. Bukan pula mengharuskan kalian membunuh waktu secara pelan-pelan seolah tidak ada waktu yang sia-sia hanya arena sibuk dengan setumpuk buku pelajaran. Bukan ! Bukan sperti itu. Tapi lebih dari itu, jadikanlah waktu-waktu kalian setiap harinya adalah ujian. Ujian bagaimana cara kalian memerangi nafsu jahat yang ada pada diri kalian. Ujian bagaimana cara kalian memecahkan masalah, Ujian bagaimana cara kalian bersabar atas segala masalah yang datang silih berganti. Ujian bagaimana cara kalian mempertahankan prestasi, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ujian bagaimana cara kalian memepersembahkan yang terbaik untuk kedua orangtua kalian di rumah. Ujian bagaimana cara kalian memepersembahkan yang terbaik untuk ustadz dan ustadzah yang tak pernah mengenal lelah dalam membimbing dan mendidik kalian. Ujian bagaimana cara kalain mempersembahakan yang terbaik untuk dunia dan umat islam dimasa yang akan datang, Dan ujian bagaimana cara kalian mempersembahkan yang terbaik unutk Allah swt. yang tak pernah berhenti mencurahkan nikmat dan ilmu pada kalian semua. Jaga dan amalkan ilmu yang telah diajarkan.
Dan terpenting lagi adalah sibukanlah kalian dengan berdo'a kepada Allah swt. agar kalian diberi kemudahan. Karena tak ada senjata yang paling ampuh bagi seorang muslim melainkan do'a.
Tidaklah seseorang menjadi mulia sebelum ia diuji terlebih dahulu
Selamat menempuh ujian akhir sekolah 'UAS' ! Keep smile......... :)
BUKAN ! BUKAN ITU
"Maaf." Hanya ucapan maaf yang bisa aku ucapkan dari kejauhan. Dari sini, dari tempat yang kini aku belum sempat beranjak. Dari sini, dari tempat yang saat ini aku tak bisa membayangkan warna raut wajahmu yang tetiba berubah saat aku putuskan 'obrolan' siang itu. Tetiba rasanya kau kesal, gusar dan mungkin sampai-sampai kau tak ingin lagi mengenaliku seperti dulu lagi yang suka manut dan menurut apa kata perintahmu. Maaf, hanya kata itu yang bisa ku sajikan dari kejauhan atas segala kekurangan, kehilafan dan mungkin ketidakberdayaanku untuk mengabulkan permintaanmu.
Seperti yang kau pernah bilang padaku waktu itu, 10 tahun yang lalu. Saat aku masih tumbuh sebagai manusia yang polos yang tak mengerti alur bicaramu. Tak memahami gaya bicara dan bahasamu. Atau lebih mudahnya aku yang masih manut dan nurut apa kata perintahmu. Sepuluh tahun lalu. Ku rasa kau ingat itu. Kau pernah mengatakan, bahwa setiap pribadi manusia akan memilki cerita tersendiri lima, enam, tujuh atau bahkan sepuluh tahun kedepan seiring bergilirnya waktu.
Kini, tepatnya sepuluh tahun aku berkelana membawa raga dan jiwaku menaiki puncak dan ketinggian. Juga menuruni lembah dan turunan. Mungkin tanpa kau sadari aku telah masuk dalam kerangka cerita dan ucapanmu sepuluh tahu lalu. Aku ingin membuat cerita tersendiri untuk hidupku lima, enam, tujuh bahkan sepuluh tahun kedepan, seperti katamu waktu itu. Aku ingin tak lagi hidup bergantung padamu. Aku ingin tak lagi memelas belas kasihan darimu. Aku tak ingin mendengar kata-kata nasehatmu lagi. Bukan, bukan aku ingin menutup rapat-rapat lubang telingaku tak ingin mendengar kata-katamu lagi. Bukan, bukan itu yang kumaksudkan. Tapi aku bosan dengan diriku sendiri yang hanya mendengar, merekam, membisu bagai patung seolah menjadi pendengar setiamu tapi tak pernah melakukan aksi nyata dari nasehatmu. Dan kembali hanya menyesali. Merenungi. Tapi diam tak berani aksi untuk benar-benar menjadi apa yang kau inginkan. Justru itu yang membuatku merasa tertawan. Terikat. Terkekang. Terpenjara. Atau bahkan kata-katamu hanya menjadi racun buatku, sehingga aku terlalu takut untuk tidak bisa menjalani hidup sebagai seorang laki-laki yang ditakdirkan oleh banyak keterpisahan dan kesendirian sejak sepuluh tahun silam.
Maaf, tak henti-hentinya aku ingin mengucapkan kata maaf padamu sebagai penekanan bahwa ini adalah tanda penyesalan dan sekaligus permohonan agar bisa dimaafkan atas segala kesalahan. Bukan, bukan aku tak ingin menuruti permintaanmu tapi aku ingin sekali bahagia tanpa lagi memelas belas kasihan darimu. Jangan, jangan kau minta aku untuk membalas budi atas kebaikanmu padaku. Sungguh ! sungguh sampai kapanpun aku tak akan bisa melakukan itu. Kau terlalu baik bagiku yang pernah tuhan ciptakan untuk sentiasa mengulurkan tanganmu saat aku jatuh, lemah tak berdaya.
Bebaskanlah Dia
ilustrasi image : deviantart.com
Pertengkaran kecil baru saja semalam terjadi. Akal sehatnya baru saja pergi, entah kemana ia pergi. Mungkin ia mencari aspirin yang bisa menyembuhkan luka lara di hatinya. Mungkin ia mencari sesuatu yang bisa meredamkan emosi tingkat tingginya. Mungkin ia mencari poros angin untuk mendinginkan kemelut panas di jiwa. Atau mencari sekepal bola salju di kutub utara untuk membekukan ingatannya pada pertengkaran kecil yang semalam baru saja terjadi. Kasihan.
Terlalu dini baginya untuk sakit hati dan menyakiti hati. Terlalu dini untuk menerima keputusan yang dia sendiri keukeh mencoba untuk mempertahankan. Terlalu dini baginya untuk memantik api pada jiwa yang ia sayangi. Sudah terlanjur nasi menjadi bubur. Untuk apa kau menyesali. Meratapi. Merenungi. Menangisi apa yang terjadi. Percuma saja kau berdo'a untuk diatukan dua jiwa yang berbeda, mustahil! Seperti kau berusaha menyatukan air dan minyak tanpa pengemulsi, kesia-sian belaka. Sudahlah berhenti untuk melakukan upaya tak ada makna.
Kau pasti ingat cerita seorang majikan yang mencintai burung peliharaannya. Ia begitu dirawatnya. Dikasih makan tak pernah kelaparan. Diberi minum tak pernah merasa haus dan dahaga. Dibersihkan kandangnya dari kotoran. Dihias sangkarnya. Begitu amat sangat cinta dan sayang ia pada burung peliharaannya. Namun, tahukah engkau? seandainya kau bisa memahami bahasa burung itu, mungkin dia akan mengatakan;
"Mencintai bukan berarti mengekangku. Menyayangi bukan berarti mengurungku.Mengasihi bukan berarti menyiksaku. Bukan mempenjarakanku dalam ruang sempit hingga aku tak berdaya. Bukan, bukan seperti itu"
Namun apalah daya, burung tetaplah burung yang ditakdirkan tidak bisa dipahami bahasanya oleh segenap manusia. Tapi coba kau lihat si pemelihara, ia tetap tersenyum. Senang. Bahagia karena ia tak bisa mendengar bahasa jiwa yang dicintainya. Padahal yang dicintainya mengeluh dan menangis darah. Begitulah cerita cinta.
Dan kau, masih belum bisa memahami apa yang baru saja aku ceritakan. Sudahlah bebaskan jiwa yang kau cinta. Jangan kekang dia. Jangan kau jeruji dia. Jangan kau penjara dia meski kau sebenarnya mencintainya. Ia ibarat burung yang senantiasa memohon pada majikannya untuk dibebaskan. Dilepaskan. Terbang bebas kemana dia suka. Dan sungguh kau mencintainya, iya kan?
Maka belajarlah kau untuk mncintai seseorang tanpa harus kau kekang. Belajarlah kau mencintai seseorang tanpa harus kau mempenjarakannya dalam tata ruang sempit yang hanya membuatnya tersiksa tak berdaya. Bebaskanlah dia. Yakinlah selama dunia belum hancur lebur. Di sana masih ada cinta. Cinta yang tidak dibungkus dengan kepalsuan dan kebohongan seperti cerita barusan.
Mereka Mendengarmu
image : Losari Beach 2014
Jika manusia tak sudi lagi mendengar semua keluh kesahmu. Menjadi pendengar setiamu. Menghayati
Menyelami dan ikut merasakan apa yan kamu rasakan. Maka ayunlah kakimu. Pijakan tapaknya pada
pepasiran landai putih nan bersih. Lalu pandanglah samudera lautan hijau di depanmu yang selalu gaduh
dengan riak ombaknya bergemuruh, membentuk irama yang menentramkan. Menenangkan. Mendamaikan
sekalius mensyahdukan. Kau akan merasakan ketentraman. Ketenangan. Kedamaian sekaligus menyejukan
hatimu yang sedang galau, risau. Seolah hijau laut dan riak ombaknya mendengar dengan seksama.
Meresapi dan merasakan apa yang terbesit dalam hatimu sebelum satu patah katapun terlempar dari
mulutmu.
SURAT UNTUK ADE
*Teruntuk ade yang jauh di pulau sana, sudah 12 tahun kita tak bersua :(
................
De, apa kabar? semoga tuhan yang baik hati senantiasa berbagi kasih untuk ade. Maaf abang baru bisa nulis surat lagi untuk ade. Abang hampir saja lupa sama ade, bayangin aja surat terakhir yang abang tulis dulu tahun 2006. Wah sudah sangat amat lama, jika di tulis dengan angka sudah 9 tahun abang tak kirim tulis surat, kirim surat dan bertukar kabar sama ade. Sekali lagi maafin abang ya de. Hening.
Oh, iya abang mau tanya, bolehkan...? sudah kelas berapa sekarang? terakhir abang denger sudah sekolah SMP, tapi abang lupa kelas berapanya. Tak penting kelas berapanya, yang penting ade semangat terus belajarnya. Jangan putus asa. Jika ade lelah, jenuh, malas maka obatilah dengan berwudhu lalu shalat 2 rakaat kemudian baca beberapa ayat qur'an, insyaallah jenuh, cape, males akan pergi dengan sendirinya dan akan datang semangat baru pada masanya. Itu juga yang abang sering lakukan di sini, ya di tanah perantauan. Abang masih ingat itu nasehat ayah pada kita sebelum ayah pergi meninggalkan kita semua selamanya, saat kita duduk bersama di sebuah ruang tamu yang hanya beralaskan tikar lusuh, abang harap ade masih ingat dan istiqomah melakukannya.
Oh, iya de, abang hampir lupa. Abang dulu sudah janji sama ade, abang akan belikan Hp baru. Sudah abang belikan nanti abang kasih ke ade kalo abang sudah pulang dari perantauan, insyaallah tahun depan.
Pesan abang ga muluk-muluk de, abang cuma minta ade tetap semangat belajar, ga ampang nyerah dan selalu optimis. Untuk biaya insyaallah abang siap bantu selagi abang mampu, meski tak mampu abang akan usahain biar mampu.
Cukup sekian surat abang untuk ade, semoga tulisan ini membuat ade senang karena ternyata abang tak lupa sama ade.
LEBARAN 2014 DI PERANTAUAN
Selamat pagi semuanya, semoga kalian semua maih diberikan kesehatan baik rohani maupun jasmani dan yang paling terpenting adalah kita masih benar-benar berada dalam naungan fitri kembali suci, dosa terampuni sperti dulu kita terlahir dari rahim ibu-ibu kita. Aamiin...
Ikhwah fillah, bersyukur kita masih diberikan kesempatan untuk kembali merasakan beramadhan dan ber-iedul fitry 1435 H atau 2014 M. Patut kita syukuri pula bahwa di iedul fitry pulalah kita kembali di kumpulkan bersama keluarga tercinta, orang-orang tercinta, sahabat-sahabat tercinta dan tentunya 'dia' yang tercinta :) . Di hari kemenangan pulalah manusia saling berbagi kebaikan, tolong menolong terhaap sesama, memberikan sesuatu kepada mereka yang selama ini hidupnya mungkin dalam kekurangan agar nantinya mereka juga sama ikut merasakan kebahagian dan kemenangan seperti kita yang merasakannya. Di hari iedul fitry pulalah Allah memberikan kesempatan pada setiap insan untuk saling menggugurkan dosa dan kesalahan diantara manusia lainnya. Sungguh "Maka Nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan !" subhanallah... betapa indah islam di sisi lain islam banyak melarang kita untuk melakukan hal-hal dosa dan kita masih terjebak disana, namun disisi lain islam memberikan sebuah peluang, sebuah kesempatan, sebuah jamuan, sebuah harapan kelak dosa-dosa yang pernah kita lakukan 11 bulan lamanya terampuni dalam 1 hari saja jika kita mampu memaksimalkan waktu itu untuk meminta maaf kepada orang-orang yang dulu pernah kita sakiti, kita zalimi, kita caci atau mereka yang pernah menzalimi kita lalu mereka datang dan menjabat tangan kita maka pada saat itulah dosa-dosa dan kesalahan kita berguguran satu sama lainnya, bayangkan betapa mudah nan indahnya islam, "Maka Nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan !"
Ikhwah fillah, tentu momen-momen yang paling kita tunggu saat iedul fitry adalah berkumpulnya kita bersama keluarga besar tercinta kita dalam satu atap lalu saling bermaaf-maafan. Sungguh momen itulah yang tidak bisa saya rasakan iedul fitry tahun ini, pasalnya saya masih di perantauan dan belum bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga. Saya untuk waktu satu tahun kedepan masih di kota Makassar, saya ke Makassar seminggu sebelum ramadhan karena ada kepentingan tugas dakwah di sini. Tapi alhamdulillah saya tidak sendirian ada 4 rekan saya juga nasibnya sama seperti saya, mereka belum bisa kembali kerumah sungkeman bersama keluarga, tapi kami juga merasakan kebahagian yang sama seperti kalian semua insyaallah.
Rindu beracampur sedih tahun ini kami hanya bisa berlebaran di negeri orang, ada perasaan rindu ingin memeluk ibu dan keluarga dari dekat namun tak bisa. Namun insyaallah keikhlasan hati dalam memaafkan kesalahan saudara-saudara, teman-teman, rekan-rekan atau bahkan lawan akan menjadi sebuah obat pelipur lara dan kerinduan di hari nan fitry tahun ini.
Ikhwah fillah, saya peribadi ingin menghatrukan permintaan maaf lahir dan batin sedalam-dalamnya jika kata-kata, tingkah laku kurang berkenan di hati kalian semua, baik yang kenal dekat sama saya secara personal ataupun mengenal saya lewat dunia maya atau pada event-event tertentu saya berkenalan dengan anda dan anda mengenal saya. Semoga di iedul fitry tahun ini menjadikan kita semakin dewasa, sadar akan tugas kita di dunia, semakin optimis dan semangat dalam meraih kemenangan dunia dan akhirat. Aamiin..
"Selamat Hari Raya 'Iedul Fitry 1435 H/ 2014 M. Mohon Maaf Lahir dan Batin"
تقبل الله منا ومنكم صيامنا وصيامكم كل عام وانتم بخي
Posted in lebaran 2014, Ramadhan, renungan, Sharing
TERUNTUK KAMU DAN WAKTU; by. RAMADHAN
Hidup memang begitu romantis. Seromantis aku dan kamu, siapapun itu. Namun keromantisan takan selamanya utuh, ada jeda dan waktu yang perlahan memupus lalu hilang dan berganti. Justru jeda dan waktu itulah yang akan kembali mempertemukan kita pada sebuah keromantisan.
Keromantisan bukan sebuah kata yang berdiri sendiri namun ada kata lain yang membuatnya indah tegak kokoh berdiri, itulah kecocokan. Kecocokan yang terkadang memaksa kita harus menerima dan rela pada salah satunya saat hati belum bisa menerima takdirnya. Romantis adalah saling mengisi dan melengkapi saat yang satu jatuh maka yang satunya harus menyangga. Saat yang satu datang maka yang lain pergi. Saat yang satu terluka maka yang lain harus bisa mengurai lara. Saat yang satu hadir kedalam dunia maka yang lain harus pergi dari dunia. Saat yang satu tertawan maka yang lain harus membebaskannya, itulah keharmonisan. Sebuah kata benda yang tidak mampu berdiri sendiri, karena hakiaktnya mereka saling melengkapi.
Saat yang lain datang dengan segala kebesarannya. Saat yang lain datang dengan segala gemerlap dunianya. Saat yang lain datang dengan segala suka cita dan tawanya. Saat yang lain datang dengan segala kesuksesannya. Dan saat yang lain bergembira dengan kedatangan iedul fitrinya, maka jiwa-jiwa yang hampa. Yang merindu. Yang kering. Yang bergelimang dosa. Yang hatinya dipenuhi oleh kecintaan pada rabbnya, kini mereka sedang menangis, berduka karena kepergian bulan ramadhan, sang pahlawan yang mampu membebaskan manusia dari jeruji kesalahan. Sang pendekar yang mampu menjaga manusia dari hawa nafsunya. Sang utusan tuhan yang mampu mentarbiyah kebejatan hawa nafsu manusia.
Teruntuk waktu;
by. Ramadhan
"Wahai waktu pengaruhmu menjadi amat berarti diantara aku dan hamba-hamaba Allah yang hatinya diliputi keimanan dan ketaatan pada rabbnya. Pengaruhmu menjadi amat berarti diantara aku dan hamba-hamba Allah yang selalu diliputi rasa rindu akan perjumpaan. Pengaruhmu menjadi amat berarti diantara aku dan hamba-hamba Allah yang tak pernah putus asa memohon kebaikan dari sisi tuhannya. Maka aku memohon padamu wahai waktu, pertemukanlah aku dengan mereka. Jumpahkanlah kembali aku dengan mereka. Satukanlah kembali aku dengan mereka. Romantiskanlah kembali perjumpaan kami di lain waktu, setelah aku pergi untuk waktu yang cukup lama. Aku yakin kepergianku dari sisi mereka akan menambah bumbu rindu di hati mereka yang senantiasa menanti hari perjumpaan denganku. Namun aku tak pernah tau, apakah di saat aku datang mereka masih di sana? atau mereka sudah pergi beranjak dari tempatnya. Wahai waktu terimakasih atas kesempatanmu menabur keromantisan diantara aku dan mereka yang mu'min kepada tuhannya. Sampaikan pada mereka bahwa aku akan selalu merindukan perjumpaan bersama mereka"
"Selamat tinggal aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama, relakanlah, ikhlaskanlah insyaallah Tuhanmu telah merancang kembali sekenario perjumpaan kita di masa-masa mendatang yang lebih romantis lagi. Belajarlah untuk merelakan sebuah kepergian yang sebenarnya kau enggan melepasnya atau takut karenanya"
KEHAMPAAN
Ada keadaan dimana aku harus tertawa. Ada keadaan dimana aku harus menangis. Ada keadaan dimana aku harus berpura-pura tau. Ada keadaan dimana aku harus berpura-pura tidak tau dan ada keadaan dimana aku harus menarik diri dari silaunya dunia, keadaan dimana aku harus kembali tersungkur pada bumi, keadaan dimana aku harus menyepikan diri dari keramaian manusia, keadaan dimana aku harus mencoba menangisi diri sendiri, mencoba membawa diri pada situasi damai, mencoba menutup mata, menutup telinga dan mencoba menawan mulut agar tidak berbicara, itulah kehampaan.
Terkadang aku membenci sebuah kehampaan. Kehampaan jiwa akan rasa. Kehampaan jiwa akan rindu. Kehampaan jiwa akan cinta dan kehampaan jiwa pada tuhannya. Namun kehampaan tak selamanya buruk, terkadang aku butuh akan suasana hampa untuk menetralisir terlalu hiverbola kecintaanku pada seonggok dunia. Menetralisir sifat kerakusan pada diri jiwa. Menetralisir kecongkakan yang ada pada busung dada. Menetralisir sebuah rasa dan rindu berlebihan yang terkadang membuatku tertawan sejuta laku dan kata.
Hampakanlah jiwamu dari kecongkakan dan kesombongan tanpa harus membenci yang sepatutnya kau benci.
Hampakanlah jiwamu dari kedengkian tanpa harus mendengki orang yang sepatutnya kau dengki.
Hampakanlah jiwamu dari rasa rindu yang tak tersampaikan tanpa harus mencaci orang yang kau rindukan.
Hampakanlah jiwamu dari segala penyakit hati yang membuatmu mati sebelum kau mati pada waktunya.
"Tuhan aku merindu kehampaan jiwa dari yang tidak kau sukai atas jiwa ini"
Diberdayakan oleh Blogger.









