Safari Dakwah #Makasar Part 1



"Ed ! Ed ! Edi bangun !" Suara itu membuatku terbangun dari tidurku, kaget!.
"Emang jam berapa akh Sugeng sekarang?" mataku masih terkesiap, perlahan aku terbangun sambil ku kucek-kucek mataku.
"Jam setengah tiga kurang, buruan bangun ! jam tiga kita berankat"
"Iya iya... yang lain udah pada bangun? akh Iful sama Rahmat"
"Udah, tinggal ente aja nih, makannya buruan bangun ada waktu setenah jam lagi buat prepare, kemas baran-barang ente yang belum dikemas"
"Iya nanti ane mau mandi dulu"
"Ok, GPL (ga pak lama)"
Jujur saja aku masih ngantuk sebenarnya, aku tidur terlalu larut malam karena ada pertandingan piala dunia antara Argentina vs Nigeria. Argentina keluar sebagai pemenang.
"Seger...."
"Dah mandi ente?"
"Udah lah.... taksinya duah dateng belum geng?
"Nih lagi mau ane telpon, kalo dah dikemas barang-barang ente, langsung aja bawa ke bawah aja"

*********************
Jam di Hp-ku menunjukan pukul 02:55 pagi, dua taksi putih sudah datang menunggu di halaman depan kampusku. Pagi ini bukan saja Aku, Sugeng, Rahmat dan Saiful yang akan chek in ke bandara Soekarno, ikut juga pagi ini Fatoni dan Zulfan. Rencanya Fatoni akan terbang ke kota Jambi dan Zulfan ke Aceh, sedangkan aku dan 3 temanku terbang ke kota Makasar.
"Toni, Zulfan sama ane di taksi ini" kata ku sambil menutup bagasi taksi.
"Ya udah Rahmat, Saiful sama ane" sahut Sugeng.
Tepat pukul 03:00 pagi taksi yang kami tumpangi perlahan melaju dan meninggalkan halaman kampus kami.
Pendar-pendar lampu malam menghiasi perjalanan kami sepanjang jalan, tak lama taksi yang kami naiki memasuki tol dan melaju begitu cepat.
"Fan, kirain ane ente ke Jandal bekasi" kataku pada Zulfan.
"Iya sih tadinya ane mau ke Jandal, tapi gara-gara syekh Fuad ane ga jadi ke Jandal malah di suruh ke Aceh" jawab Zulfan dengan sedikit rasa penyesalan di wajahnya.
Sepanjang jalan aku hanya bercakap-cakap dengan Zulfan, sedangkan Fatoni melanjutkan tidurnya yang berada di depan, samping pak sopir.
Dan taksi pun melaju cepat mengiris jalan.
***********************
 Pukul 04:10 pagi kami tiba di bandara Soekarno-Hatta tepat di pintu masuk armada Sriwijaya Air. 
"Alhamulillah, sampai juga kita" tuturku.
"Mas silahkan periksa dulu barang-barang bawaanya, takut ada yang ketinggalan di bagasi atau di dalam taksi" kata pak Hanif memberi tau kami.
"Akh Toni tolong ambilin troly tuh!" perintah Rahmat sambil menunjuk ke arah Troly.
Dengan sekejap troly pun penuh dengan koper, tas dan dus. Kami pun segera menuju ke tempat pembelian tiket untuk menukarkan kode boking tempat yang sbelumnya sudah kami bayar tapi belum sempat di print out. Lepas dari situ, kami menuju tempat penimbangan barang-barang bawaan yang hendak di taruh di bagasi pesawat, satu persatu koper dan dus kami di timbang, sedangkan tas dan barang bawaan yang sekiranya enteng kami bawa ke kabin pesawat. 
Usai semua tas dan barang--barang kami melewati chek scurity, kami pun berlanjut menuju boaring pass dan membayar dengan uang Rp. 40.000 rupiah. Usai selesai boarding pass kami semua duduk di tempat tunggu pemberangkatan sambil menonton pertandinan piala dunia antara Francis vs Equador yang berhasil imbang 0-0 sampai laga usai.
Sekian menit menunggu, terengar suara pemberitahuan  bahwa armada kami akan segera berangkat. Aku dan teman-temanku segera berjalan cepat untuk antisipasi mengantri di pintu pemeriksaan tiket masuk.
 Pukul 04:30  pagi armada pesawat kamipun lepas landas membumbung di angkasa. Sempat merasa shok dadaku saat pesawat menjulang dan menanjak tinggi karena ini awal pertama kalinya aku naik pesawat. 
Sungguh bgitu indah kekuasaan Tuhan saat kami berada di atas awan, begitu indah awan untuk di saksikan mata telanjang.
Pukul 09.10 pagi kami pun tiba di airport sultan hasanudin dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun. 
Lewat perjalanan ini, aku hanya ingin mengatakan betapa menyenangkan perjalanan dakwah ini.

>

Berharap

Berharap. Semoga masih ada harapan untuk bisa kembali kesana esok hari. Semoga saja sang mentari masih berbaik hati untuk sekali lagi dan seterusnya memberi kehangatan padaku. Semoga saja angin masih berputar, berpilin memberi kesejukan padaku. Semoga saja malam dan siang masih sempat aku selami esok hari. Ya, aku ingin semuanya terjadi esok hari.
Sudah bosan 'borred' aku rasakan disini. Di tempat yang aku memulai kehidupan setelah aku berumur duabelas tahun silam. Aku ingin tak lagi mendengar pekik suara itu, pekikkan yang membuat gendang telingaku roboh. Dadaku retak seperti di sambar petir saat hujan menggelegar. Ku tak ingin ia terlalu lama membenciku. Aku tak ingin mengotori setitik hatiku yang begitu lelah aku memeliharanya dan kotor seketika hanya karena aku menaruh perasaan 'kotor' tentang dia. Aku tak ingin melihat lagi kegaduhan berserakan di lantai, dinding, rak bahkan halaman rumah itu. Aku tak ingin mendustai hatiku yang perlahan menanam benih kebencian yang tak jelas. Aku tak ingin mendapat marah dan murkaNya.
Tinggalkan ! Sesekali aku membathin dan teriak "tinggalkan !". Ya aku ingin meninggalkan kebaikan, kebusukan, kesenangan dan penderitaan di halaman rumah sempit itu. Aku tak ingin membawanya terlalu jauh mengikuti alur hidupku yang aku bawa sebentar lagi. Cukup disana saja. Aku tak ingin terulang dan mengulangi lagi. Aku memilih alur hidupku, bukan orang lain.
Hidup itu plihan, dan pilihan adalah hak individu anak manusia. Jangan pernah mengacaukan apa yang aku jalani dan jangan pernah menjamah saat aku sedang mersakan ketenangan bersama duniaku yang suatu saat ia akan pergi begitu saja tanpa harus cape dan lelah memikirkan kalian yang memaksa aku harus hidup dalam 'kebebasan'
Dunia bagiku sudah cukup untuk mengukur kebaikan dan kebusukanku. Cukup tau akab dimana aku terlempar "surga atau neraka".
Tuhanku Maha tau, dia tidak akan salah dalam memutuskan. Dia hakim. Dia presiden. Dia segala-galanya. Aku di ciptaNya, terserah hendak di buat apa aku di dunia dan kelak di alam kedua setwlah semuanya hancur lebur tak berbekas.
Tirani ! Tirani ! Tirani ! Sungguh aku durhaka ?

>

AFEKSIKU PERGI

Afeksi ; rasanya tak ada. Rasanya tak pernah aku merasa. Rasanya tiada. Rasanya musnah. Hilang tak berbekas. Aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Aku ingin pergi ke pantai yang beradu ombak, disana ingin sekali aku pekikkan suara hatiku yang setiap detik protes tentang ketidak adilan. Tentang semua kebusukan. Tentang mulut manusia yang selalu menghujamkan duri kedalam gorong-gorong hati manusia.
Afeksi ; hanya sebatas simbol. Bukan kekelan yang tiada berarti. Samarpun tidak. Sungguh ia tak nampak dari sosok manusia itu. Tak tahan, ingin sekali aku masuk ke dalam ruang kedap suara, lalu disana aku pekikkan suara protes "ganyang !" Yang kesekian kalinya.
Afeksi ; suram. Redup. Gelap. Tak bercahaya sama sekali. Pernah aku mencoba menyalakannya, beberapa menit atau beberapa jam ia redup lagi. Aku menangis. Aku sedih. Aku terhenyak. Aku terpukul. Hatiku sembab membiru karenanya.
Afeksi ; seperti memintal benang yang sudah kusut, "percuma kau akan menyesal menghadapinya, kau hanya akan menggerutu."
Aku bingung. Aku linglung. Aku merasa serba salah. Aku tak punya asa.
Afeksi, oh... afeksi, siapa yang tak mengenalmu? Siapa yang tak membutuhkanmu? Siapa yang rela di sekat hidupnya olehmu? Luar biasa aku binasa, hatiku kering krontang karenanya.

Dimanakah kau afeksi ; dimanakah rasa kasih sayang itu?

>

Hegemoni

Kita sama sebagai manusia, namun kita berbeda dalam banyak hal. Semua orang merasa dirinya paling hebat dalam hal-hal tertentu, tapi yakinlah ada hal-hal tertentu pula yang tidak pernah mereka bisa melakukannya. Kita yakin bahwa Tuhan itu satu, tapi di luar sana masih banyak yang menuhankan sesuatu sebagai Tuhan bagi dirinya, sehingga makna Esa itu terkadang sulit di gambarkan serta telah pudar rasa kebertuhanan bagi sebagian manusia di luar sana. Kita sama kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini, tapi di dalam diri kita masih banyak kriteria buruk dan tidak pantas menjadi khalifah di muka bumi ini. Kita sama di beri Tuhan kelebihan dan kekurangan, tapi di luar sana masih banyak anak manusia yang mencoba mengklaim dirinya paling hebat, kuat dan serba segalanya.
Dalam hidup dan kehidupan kita hanya butuh kebersamaan, seragam dalam segala hal tapi tidak memaksakan dalam keberyakinan akan Tuhan. Orangtua kita dulu banyak mengajarkan budi pekerti yang luhur dalam membangun sebuah pradaban di tengah-tengah hegemoni perbedaan kultur, budaya, agama, keyakinan serta norma-norma yang berlaku pada masa itu. Kita sebagai generasi pembaharu dari semua warisan orangtua kita dulu, sudah selayaknya kita lebih soft dan care untuk mewujudkan pradaban di tengah-tengah kemelutnya hidup berbangsa, beragama dan berbudaya.

>

Maaf;

Maaf,

Sebelum kedatanganmu, aku selalu mendo'akanmu semoga tidak ada aral yang melintang, hingg kau tiba dengan selamat. Segitupun sudah membuatku cukup. Dua minggu yang lalu terkabar siar tentang kedatanganmu ke kota dulumu, aku mengucap syukur "kau selamat".
Hari berganti hari kau mengisinya dengan penuh suka cita bersama abah, umi dan keluarga yang katanya amat kau cinta. Hingga berlebihan kau tulis di media sosial yang sekali klik milyaran manusia bisa melihat, membaca, melike bahkan mengomentari status yang keluar dari benakmu. Aku berucap lagi "Duh... seneng yah bisa kumpul sama keluarga" izinkan aku ikut senang bersamamu.
Momen ! yah suatu momen yg selalu kita harapkan kehadirannya, "maaf, aku ga bisa datang saat semua orang lain datang baik yg ku kenal atau tidak sama sekali". Lalu sebuah pesan melayang dari sudut kota sana ke screen messengerku "knp kk ga dtng?", itu sudah membuatku cukup senang, masih ada orang asing yg mau bertanya suatu hal kepadaku.
Iedul firty terus berlalu, kesalahan demi kesalahan selalu kita ciptakan, namun alangkah sayang tangan kita belum sempat berjabat tangan. Sampai detik ini aku belum juga datang menemuimu, untuk sekedar melihat raut wajah abah, umi dan ke-6 adikmu lalu duduk manis sambil meneguk air yg kau hidangkan atau mencicipi kue lebaran itupun jika kau suguhkan. Duh... betapa bodohnya aku, kini aku hanya bisa menyesali.
Terdengar kabar kau akan pulang ke sudut kota dimana keperibadianmu di bentuk di sana, esok atau lusa katanya. Tak terasa yah, begitu cepat aku menanam dosa namun setahun lagi atau bahkan selamanya aku tidak sempat berjabat tangan hanya sekedar berucap "Maafkan kesalahan saya".
Besok atau lusa adalah kenyataan, aku berdo'a saja pada dzat yg memegang ubun2 kita, semoga kesalahan yg kita ciptakan kita bisa saling memaafkan. Dan aku akan berdo'a setelah fajar berlalu perlahan mencipta waktu "Ya Allah... selamatkan adeku yang hendak kembali menguji ilmu di dada serta menolong apa yang semestinya di tolong", lalu kau selamat dan berpijak dengan kondisi sehat, itupun sudah membuatku lebih dari cukup untuk mengajariku bersyukur Tuhan perkenalkan aku denganmu untuk mencipta karya yang lebih besar dari sekedar menulis asa tentang 'rekayasa' yg suatu saat nanti akan kita rasakan buahnya.

KERELAAN,

Melepaskanmu untuk pergi, barangkali seperti meluruhkan jarak yang selama ini kita kutuki. Hadirnya kerelaan, tak selalu jadi penanda bahwa rindu itu kini telah sirna. Ada semacam metamorfosa, yang membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa 'Amour Vincit Omnia' tak selamanya mesti kita maknai sebagai sebuah kemenangan atas kedekatan, interaksi atau bahkan kepemilikan atas nama apapun.

"Kebahagian tidak pernah bergantung pada kepemilikan kita atas sesuatu, bukan ?"
Maka usai paragraf ini berakhir, tak ada lagi pintu yang perlu diketuk. Tak ada lagi kunci yang mesti di cari. Tak perlu ada jauh-jauh yg lain. Biarkan semuanya berjalan begitu saja bersama do'a, tanpa rekayasa atau dramatisasi apapun.

>

PEMIMPINKU SIAPKAH ANDA MISKIN?



Dunia malam ini terasa sedikit segar, tadi sore baru saja pohon-pohon teki dan bunga-bunga kertas di pinggir jalan basah kuyup di guyur huja, lapangan badminton yang letaknya di samping jendela kamarku kini sudah tak berdebu dan kusam lagi, yah dunia malam ini segar, di tambah kesegaran pemandangan dan angin malam ibu kota. Ramai hilir-mudik orang tua yang mebonceng anaknya dengan motor bahkan sepeda tua ala jogjapun ada di jantung ibu kota ini. Angin berhembus kian bersahabat, entah kenapa? mungkin masih terlalu sore untuk menjelang malam. Aku teringat sosok seorang lelaki yang gagah, berani, tegas dan amanah, mungkin kalian sudah tau semuanya orang yang aku maksud. Dia seorang lelaki yang berani, cerdas, amanah serta memilih miskin dari pada melihat rakyatnya kelaparan, dia seorang pemimpin yang di rindukan mahluk langit dan bumi hingga akhir zaman, tentunya bukan Rasulallah, Nabi Muhammad terlalu jauh untuk aku tampilkan sosok kepribadiannya dalam tulisanku ini, sungguh aku tidak akan sanggup untuk melukiskan akhlak dan kepribadian Rasul dalam semua buku diary-ku, bagaimana tidak, beliau itu Aisyah katakan "seperti al-qur'an yang berjalan", tak perlu saya menjelaskan maksudnya,kalianpun dengan sendirinya akan paham. Dalam tulisanku malam ini, aku sedang merindu sosok pemimpin yang luar biasa dan bijaksana, aku ingin ada salah satu pemimpin di negeri Indonesia ini bisa mencontoh dirinya, sebut saja dialah Umar bin ‘Abdul Aziz (Wafat 101 H). Nama sebenarnya adalah Abu Hafzah bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abil ash bin Umayyah al-Quraisy. Dia sosok pemimpin yang akrab dengan mentri-mentrinya, keluarganya, para khodimnya (pembantu) terlebih kasih sayangnya pada rakyat yang di pimpinnya. Lembaran hidup khalifah yang ahli ibadah, zuhud, dan khalifah rasyidin yang kelima ini lebih harum dari aroma misk dan lebih asri dari taman bunga yang indah. Kisah hidup yang mengagumkan laksana taman yang harum semerbak, di manapun Anda singgah di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang sejuk di hati, bunga-bunga yang elok dipandang mata dan buah-buahan yang lezat rasanya. Semua orang tidak akan pernah melupakan jasa dan keluhuran budi pekertinya sebagai pemimpin untuk rakyatnya, ia tidak di takuti oleh rakyatnya, karena ia bukan sosok 'pemimpin jahat' yang kerap kita saksikan di layar televisi kita, ia bahkan di cintai oleh seluruh lapisan rakyatnya. Pernah suatu ketika terjadi percakapan antara sosok Umar bin Abdul Aziz dengan Abu Hazim.
“Suatu ketika, aku menemui khalifah muslimin Umar bin Abdul Aziz tatkala beliau berada di Khunashirah, tempat pemerahan susu. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan beliau. Saya mendapatkan beliau berada di depan pintu. Pertama kali memandang, saya sudah tidak mengenali beliau lagi lantaran banyaknya perubahan fisik pada diri beliau dibandingkan dengan tatkala bertemu dengan saya di Madinah. Saat di mana beliau menjadi gubernur di sana. Beliau menyambut kedatanganku dan berkata:
Umar: “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim!”
Aku: (Akupun mendekat), Bukankah Anda amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz?”
Umar: “Benar!”
Aku: “Apa yang menyebabkan Anda berubah?! Bukankah wajah Anda dahulu tampan? Kulit Anda halus? Hidup serba kecukupan?”
Umar: “Begitulah, aku memang telah berubah.”
Aku: “Lantas apa yang menyebabkan Anda berubah, padahal Anda telah menguasai emas dan perak dan Anda telah diangkat menjadi amirul mukminin?”
Umar: “Memangnya apa yang berubah pada diriku wahai Abu Hazim?”
Aku: “Tubuh begitu kurus dan kering, kulit Anda yang menjadi kasar dan wajahmu yang menjadi pucat, bening kedua matamu yang telah redup..”
Tiba-tiba saja beliau menangis dan berkata,
Umar: “Bagaimana halnya jika engkau melihatku setelah tiga hari aku di dalam kubur, mungkin kedua mataku telah melorot di pipiku.. perutku telah terburai isinya… ulat-ulat tanah menggerogoti sekujur badanku dengan lahapnya. Sungguh jika engkau melihatku ketika itu wahai Abu Hazim, tentulah lebih tak mengenaliku lagi dari hari ini. Ingatkah Anda tentang suatu hadis yang pernah Anda bacakan kepadaku sewaktu di Madinah wahai Abu Hazim?”
Aku: “Saya telah menyampaikan banyak hadis wahai amirul mukminin, lantas hadis manakah yang Anda maksud?”
Umar: “Yakni hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.”
Aku: “Benar, aku masih mengingatnya wahai amirul mukminin.”
Umar: “Ulangilah hadis itu untukku, karena saya ingin mendengarnya dari Anda!”
Aku: “Saya telah mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terhampar rintangan yang terjal, sangat berbahaya, tidak ada yang mampu melewatinya dengan selamat melainkan orang yang kuat.”
Lalu menangislah Umar dengan tangisan yang mengharukan, saya khawatir jika tangisan tersebut memecahkan hatinya. Kemudian beliau air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata, “Apakah Anda sudi menegurku wahai Abu Hazim bila aku berleha-leha dalam mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku berhasil menempuhnya? Karena aku khawatir jika aku tidak berhasil.

Hah... aku terharu mengenang sosok pemimpin yang satu ini, aku hanya berdo'a dan berharap semoga saja akan terlahir seorang pemimpin di Negeri Indonesia ini seperti dia, tidak muluk-muluk kami meminta kepada pemimpin kita, aku hanya akan bertanya "WAHAI PEMIMPINKU, SIAPKAH ANDA MENJADI MISKIN JIKA ENGKAU MEMIMPIN BANGSA INI?", mungkin terlalu aneh pertanyaan dan permintaanku ini, tapi memang seharusnya begitu, menurutku pemimpin adalah payung yang memayungi orang-orang yang memang seharusnya berhaq mendapatkan payungannya, bukan pemimpin yang ingin di payungin oleh KETINGGIAN JABATANNYA, bukan pula Karena KEMGEHAN HARTANYA, bukan karena SELALU DI KAWAL PEMBANTUNYA, bukan karena UANG YANG AKAN DIA DAPATKAN, kalo sudah itu semua menjadi TUJUANNYA, maka kita tidak akan heran lagi, tidak akan aneh lagi melihat para pemimpin kita setiap harinya di cekal oleh KPK (komisi pemberantasan KORUPTOR), mungkin kita sudah bosan melihat layar televisi kita setiap menitnya di hidangkan wajah-wajah pemimpin kita yang mulutnya busuk, yang mudah berjanji, berkoar, memberi harapan saat mereka berkampanye di tengah-tengah penderitaan rakyatnya. 
Hah... Bangsa kita sudah lelah, penegak hukum kita juga sudah kelelahan, bagaimana tidak, yang mereka tangkap bukan orang-orang bodoh, bukan orang-orang yang tidak berpendidikan, bukan pula orang yang kerjanya mencuri ayam tetangga. Tapi yang mereka tangkap adalah orang-orang yang sudah melahap semua kursi pendidikan, baik luar negeri maupun dalam negeri, di antara mereka juga, ada yang sdah berpangkat BINTNG 2 dan 3, ada yang menjadi pendiri partai, politikus-politikus busuk yang selalu berlindung dalam megahnya kursi jabatan dan enggan memenuhi hak-hak rakyatnya yang setiap hari menengadahkan tangan-tangannya di trotoar jalanan, setasiun kereta bahkan di pintu-pintu rumah orang-orang yang berduit, namun sayang, tangan mereka tetap kosong karena orang kayanya tidak menghiraukan mereka !.

Oh... pemimpin kami, sadarlah, di depan kita semua Neraka dan Surga. TIdak kah kalian lelah melihat rakyat dan bangsa yang terucubak-cabik karena perbuatan kalian yang hina. 
Semoga saja ada sosok Umar bin Abdul Aziz ala Indonesia.

>

HATIKU MELEBUR KARENANYA-



     Aku bagai orang yang terlupakan, aku ada, bagai tiada, pernah ketika lebaran, ibu berbelanja baju-baju baru di pasar malam bersama kakak perempuanku. Semua kebagian, kecuali aku. Alasan ibu, “ibu bukannya ga mau beliin baju buat kamu, tadi malam uangnya hanya cukup buat beli baju adikmu, lain kali saja”.

     Selalu saja ibu banyak alasan, ini bukan pertama kalinya ibu seperti itu, tapi sudah berulang kali. Aku marah, aku kesal ! aku banting pintu kamarku, ku kunci rapat-rapat. Aku tak mau ada orang yang masuk ke kamarku malam itu. Bapak mengetuk pintu, “Nak, jangan ngambek seperti itu, tidak baik, tolong buka pintunya, bapak mau bicara sama kamu,” dalam keadaan berkaca-kaca bercampur kesal aku membuka pintu, “Anak bapak kok nangis sih, malu tuh sama umur,” “ga nangis kok pak, Jounal cuma kesel aja” jawabku. Sikap bapak memang berbeda dengan ibu, sikapnya santun, lembut dan penyabar. Jujur, aku paling dekat dengan sosok bapak daripada ibu, bapak lebih paham tentangku daripada ibu.

     Bapak mengajakku duduk di bangku teras yang terbuat dari bambu hitam, buatan bapak sendiri, “Kamu kesal kenapa tadi nak ?,”  “Pak, kenapa sih semenjak Jounal duduk di kelas lima SD, ibu tak pernah lagi membelikan baju lebaran buat Jounal ?” bukan jawaban yang aku lontarkan, melainkan aku kembali bertanya pada bapak yang sejak tadi berwajah dingin.

     “Bapak tidak tau persis alasan ibumu tidak membelikan baju baru untuk lebaran besok. Tapi bapak punya kisah tentang masa kecil bapak dulu, kalo kamu bersedia mendengarkan kisah bapak, bapak akan cerita, tapi kalo tidak mau, ya... bapak tidak memaksa,” ku pandangi wajah bapak dalam-dalam, bapak bagai obat penawar bagiku, bapak selalu bisa menghibur di saat aku ada masalah. Aku menganggukan kepala, sebagai isyarat aku siap mendengarkan kisah bapak masa kecil dulu.

     “Nak, bapak bukan terlahir dari keluarga punya, ibu dan ayahnya bapak hanya seorang petani desa, bapak adalah anak pertama di keluarga itu, bapak punya adik dua laki-laki dan satu perempuan, keluarga bapak dulu hidup dalam keterbatasan, bergantung pada padi yang di tanam, kalo panennya bagus, kami bisa  makan sedikit lebih enak di bandingkan hari biasanya, tapi kalo panen padi sedang tidak bagus, terpaksa kami makan seadanya, bahkan pernah ibu  meminjam uang untuk membeli beras, karena uang sudah kritis dan habis. Ayah bapak hanya bisa menyekolahkan bapak sampai SD saja, karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Setelah tamat SD, bapak putuskan untuk membantu ayah dan ibu mengurusi padi di sawah, dari pagi sampai petang hanya itu pekerjaan bapak dulu. Suatu ketika, padi kami mengalami panen yang cukup bagus, sehingga separuh bisa di jual untuk mendapatkan uang, dan separuh lagi untuk persedian makan di rumah. Ibu keesokan harinya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan dapur dan baju-baju baru karena enam hari lagi hari raya idul fitri akan tiba. Ibu pulang dari pasar membawa baju-baju baru untuk lebaran besok, adik-adik bapak kebagian semua, kecuali bapak, ayah dan ibu. Ayah bapak tersenyum lebar melihat adik-adik bapak saat menjajal bajunya masing-masing, bapak ikut tersenyum meski tidak di belikan baju baru oleh ibu, ibu menghampiri bapak “Nak, maafin ibu ga bisa beliin baju baru buat kamu, ibu hanya beliin baju beru buat adik-adikmu saja, ibu sama ayah aja ga beli apa-apa nak, kamu kan anak paling gede, yah... untuk sementara ngalah dulu sama adik-adikmu ya nak...” itu kisah bapak kecil dulu, sama kaya kamu masalahnya ga di beliin baju baru buat lebaran, tapi bapak tidak menangis juga tidak kesel malah seneng melihat adik-adik bapak pakai baju baru, karena bapak anak laki-laki dan paling besar di keluarga bapak, begitulah ayah dan ibu mendidik bapak,”

     Usai menyimak tuturan kisah bapak, aku tersentuh, hatiku lebur, tak terasa air bening dari pipiku mengalir perlahan hingga jatuh ke bumi, aku memeluk bapakku erat-erat sambil ku berkata “Pak... maafin joual yah, yang udah buat bapak sedih, terimakasih atas nasihat dan pelajaran yang bapak kasih ke Jounal,” bapak melepaskan pelukan eratnya dariku, dan pergi begitu saja menuju ruang tamu. Dan aku masih terpaku di bangku teras sambil memandangi rembulan nan bintang-bintang yang ikut menghiburku.

>

Apa Itu Ukhwah ?


Ada yang bertanya kepada saya, apa itu ukhwah samakah dengan arti sahabat ? saya hanya tersenyum kemudian saya menjelaskan apa yang saya tahu. Aku bertanya padanya, apa pendapat anda jika anda melihat tiga ekor kucing makan dala satu piring yang hanya berisikan lauk pauk ikan asin saja dan itu hanya baunya saja tidak tampak secara utuh dagingnya karena di remes-remes  oleh pemiliknya, hanya sisa baunya saja dan mereka bertiga memakannya dalam keadaan tenang tidak perang satu sama lain ? orang itu menjawab, "kucingnya akur, rukun satu sama lain". Antum bener, tapi ukhwah di antara manusia berbeda dan lebih dalam makna dari hanya sekedar kucing yang makan bareng dalam satu piring, dan berbeda pula

>

Do You Want Jannah ?


Manusia muslim mana yang tak ingin masuk surga ? sering kita survei dalam sebuah majlis taklim atau acara keagamaan pada umumnya, ketika seorang pemuka agama menanyakan mau surga atau neraka ? pasti semua jawbannya serentak memilih surga. mungkin ada juga yang tidak jawab, bukan berarti ia bingung atau tidak memilih keduanya, mungkin saja dia bercermin pada dirinya, "apakah pantas manusia sepertiku tempatku di surga ?".
Surga, ya itulah sebuah tempat kembali yang kekal hakiki di alam sana, yang semua orang mendambakannya. Tanpa terkecuali orang yang tak pernah beribadah, suka teler di jalan tengah malam bahkan mereka yang bukan muslimpun mengharapkan surga, tapi entah surga yang seperti apa yang ada dalam benak mereka ?

>

Dua Sisi Berbeda



Ku lihat langit tetap cerah. Awan tipis tetap menggantung. Angin berhembus pelan., sejuknya menjalar ke dasar pori-pori. Dedaunan menari di terpa angin, bunyi mendesah di antara celah-celah daun yang saling berpelukan. Hari ini amat cerah, tak ada mendung menggantung. Tak terasa, detik berkumpul menjadi menit, menit berkumpul menjadi jam, jam berkumpul menjadi hari, hari berkumpul menjadi minggu, minggu berkumpul menjadi bulan dan bulan berpadu menjadi tahun.
Tak terasa aku telah menapaki tanggal 2 di bulan Juli dan tahun 2012, bertepatan dengan kelahiranku. Tanggal yang bersejarah, tanggal dimana aku terlahir ke bumi sebagai manusia dan hamba-nya yang baru. 21 tahun sudah aku berpijak di bumi ini.
Di sisi lain aku bahagia, bahagia masih merasakan denyut jantung dan

>

Tentang Mereka !


 Hai…

Kesini sebentar, aku ingin berbicara denganmu, tapi ini rahasia loh… makannya lewat

bisikan aja yah? kamu tahu ga, kenapa bangsa indonesia semakin tertinggal dan setiap detik selalu saja ada peristiwa memalukan di negeri ini ?

“aku ga tau ! kenapa tuh?”

karena generasi bangsa ini sudah jauh dari peradaban fitrah mereka sebagai manusia, lebih parah lagi budaya barat (liberalis) di negeri ini sudah menjadi tuntunan di kalangan pemuda indonesia. akhirnya, yang terjadi, mabok-mabokan lah ! pemerkosaan lah, perampokan lah ! korupsi lah ! dan yang lebih parah lagi penumpang angkot di perkosa didalam angkot !

>

Aku Bukan Pelukis


Izinkan aku melukismu pagi ini, bukan tanpa alasan aku ingin melukismu dan bukan pula aku kurang kerjaan pagi ini. entahlah ! tak perlu aku memberi tahumu, aku takut membuat tidurmu tak nyenyak, membaut pagimu tak semangat hanya karena sebuah 'alasan'.
cukup hanya aku dan Tuhan yang selalu mengawasiku siang dan maalam, ia tak pernah lalai sedetikpun. Oh ia lukisan itu akan aku simpan selamanya di kamarku, dan tak akan aku berikan kepadamu atau kepada orang lain apa lagi orang yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Jujur saja, aku suka dengan gayamu, caramu berbicara, caramu menyapa, caramu berdandanpun aku

>

USBU' PALESTINA >>1 (Solidaritas)




Bedug subuh sudah berkumandang jauh menerebos kesunyian pagi yang masih gelap gulita, sayup suaranya menendang gendang telingaku, hingga aku terbangun. Meski mata ini masih merasakan kantuk, tapi aku harus tetap  bangun subuh, aku masih ingat dengan kalimat “barang siapa yang melaksanakan shalat fajar (subuh), maka itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya”, sudah barang tentu sebagai seorang lelaki (mujahid) harus selalu bangun lebih awal agar tidak ketinggalan shalat subuhnya. Lelaki identik symbol kekuatan, kelak ia sebagai pemimpin bagi dirinya, keluarganya, masayarakatnya dan bahkan negerinya. Oleh karena itu, aku berpesan untuk diriku dan kalian sekalian wahai ikhwan, jangan malas yah bangun subuh, shalat subuh dan jadilah lelaki yang mandiri dan kuat.

Hari senin, hari dimana aku harus masuk kampus karena ada mata kuliah, sekali lagi aku harus memaksakan jasad dan ruh ini untuk menyantap santapan ruhani sebanyak-banyaknya dari para dosen yang sangat aku kagumi keilmuannya, bagaimana tak kagum, dosenku rata-rata lulusan timur tengah, ada yang dari Al-azhar Kairo (mesir) seperti Dr. Abbas Manshur, MA, Dr. Saiful Bahri, MA, Ust. Sofwan Abbas, MA, dan masih ada yang lain, ada juga yang dari Universitas Islam Madinah (UIM-Madinah) seperti Dr. Taufiqul Azhar, MA, ada juga yang dari Universitas Khurdun-sudan, seperti Ust. Safarudin ada juga yang dari KSA-Indonesia, seperti Ust. Amir Hamzah dan Ust. Itang, ada juga yang dari Yaman Dr. Fuad asshufi dan Ust. Aly as-syairi. Mereka adalah dosen-dosen yang sangat profesiaonal di bidangnya masing-masing, mereka juga dosen di Universitas yang sangat bergengsi di Asia Tenggara, yang namanya sudah mendunia, ayo tebak ! that right ! Universitas Indonesia.

Pagi itu aku harus tetap semangat, aku melihat sebagian teman-temanku sudah hadir di kelas, ku tatapi wajah mereka satu persatu yang penuh sayup, ternyata mereka juga masih pada ngantuk, masih pada pucat dan tak jarang mulut mereka selalu menguap ‘Uah….’. wajar saja keadaan kami masih ngantuk bahkan ada yang melanjutkan tidurnya dengan menekuk kepala di bangku sambil menunggu dosen hadir, wajar saja kami masih merasa kantuk malamnya kami bergadang full dari jam 08.00 malam sampai jam 02.00 malam, pengen tau ngapain saja kami semalam ? makannya baca terus yah….

Next....

>

Blog 'Kamu' Cacat

Alhamdulillah kemaren gw sukses ngisi acara di kantor wali kota, “wuih… keren loh pasti di undang sama pak wali kota?”, ngarep ! gw di ajak orang suruh ngisi acara kena jadwal baca qur’an gw “wah ada anak KH. Muammar Khadafi, eh salah, maksudnya KH. Muammar ZA, qori international prodak Indonesia” hehe…:) bisa aja loh fitnah gw. Bulan ramadhan emang ga salah kalo kata orang-orang, bulan ramadhan itu bulan yang penuh keberkahan, kemaren aja gw selain buka puasa di kantor wali kota, gw juga pulangnya bawa berkat hehe…  udah gitu pas mau pulang di salamin terus ada amplop putih,bersih nyelip di tangan panitia, dengan bangga dan

>

Judul Ga Jelas !

Siang Bloggers “ceile… udah punya nama fans berat tuh kayanya :D, Blongers”, hari ini puasa sangat kerasa banget buat gw pribadi. Bayangin aja “ogah amat gw bayangin loh :D” semalem tidur kalo ga salah jam satuan, “kamu dimana? Sama siapa ? semalam berbuat apa?” jadi nyanyi kangen band gw. Yang jelas gw bukan ngepet semalem :D, semalem OL dari jam 10an sampe jam 1an, bukan OL doank sih… “Hayoh… ngapain aja loh?”, hus jangan ngeres dulu bro, gw masih waras kali, apa lagi masih dalam keadaan ramadhan “Emang kalo di luar ramadhan ngapain aja?”, Gw  masih punya rem buat ngelakuin sesuatu yang nakal di internet hehehe… :D
Biasalah buka facebook, twitter dan ngutak-atik sambil nyari

>

Tausyiah 'Gado-Gado'

 
Pagi Blongors hiks hiks hiks… namanya aneh tapi keren, pagi-pagi banget nih gw ngupdate blog, soalnya otak kanan sama otak kiri masih fresh “Kaya ikan di supermarket :D”, di tunjang mata gw yang masih normal dan ga ngantuk kaya kemaren. Gimana acara I’tikafnya Blogngors tadi malem? Mudah-mudahan sukses yah gw do’ain dari sini. Amien….
Tadi malem gw juga ikut I’tikaf lagi sama temen-temen kampus, daripada nongkrong di Mall-mall “Masih bagus nongkrong di mall, daripada nongkrong di Kaskus, eh keceplosan maksudnya nongkrong di Kakus” mendingan nongkrong di masjid, eit… jangan salah paham, nongkrong di masjid beda sama nongkrong di

>

CATATAN UNTUKMU SI PEMALU-



Hai... kamu wanita yang dulu aku pernah mengenalmu, senang bisa mengenalmu bahkan lebih dari itu. Kebanggan tersendiri bisa belajar akan cinta darimu, bahkan lebih dari itu aku belajar mencintaimu :d:, sebelumnya aku ingin menyapa keadaanmu dari balik tirai jendela kamarku, "Apa kabarmu cantik? :h: , bagaimana dengan kuliahmu ? bagaimana keadaan keluargamu? mungkin lebih penting lagi aku ingin bertanya soal kabar kedekatanmu dengan lelaki yang mampu mencintaimu?", semoga saja kabarmu hari ini 'baik-baik saja', terlepas dari tugasmu yang menumpuk yang akan menyambutmu setelah liburan nanti, aku yakin kamu bisa menyelesaikan semua itu, oh.. ia, mungkin sudah satu tahun, aku tak mendengar kabar kedua orang tuamu, di sini aku selalu mendoakan untuk kesejahtraan mereka berdua, karena aku sempat mengenal mereka lebih dekat, sedekat aku mengenalmu :c:, sebenarnya itu pertanyaan tak penting buatku, tapi entahlah, setiap ada kabar tentang kedekatanmu dengan seorang laki-laki, setengah hatiku selalu bertanya "Benarkah?", semoga saja setengah hatiku lagi tak ragu untuk membenarkan keraguan akan setengah hatiku yang lain. :e:

Kamu begitu lugu,itu yang aku tahu dahulu, pemalu menjadi sifat kebiasaanmu dalam berkata, berkata akan kejujuran hati yang tak berani kamu ungkapkan. Tersenyum, ya mungkin ini, ini yang bisa menetralisir dari sebuah rasa malu yang terkadang berujung membuat hati menyesal. Tak hanya itu, kamu wanita cerdas, brilian mungkin seperti intan, maaf jika aku berlebihan, tapi itu memang kenyataan.:h:

Lekat di benakku, sebuah pristiwa atau moment, entahlah aku tak bisa mengkategorikan sesuatu yang sudah terjadi, tapi dalam space memoriku, kejadian itu tak akan pernah terhapus, jika kau bertanya "Sampai kapan?" mungkin sampai aku mati, mati raga dan jiwaku, tapi cintaku akan selalu hidup di atas lembaran-lembaran catatan tentangmu. :d:

Oh ia, sekali lagi selamat yah, selamat kau bisa berlibur dengan keluarga besarmu, keluarga yang kamu cintai, bahkan terkadang kau menulis tentang mereka, atau sekedar sepucuk rindu untuk mereka dalam wall facebookmu. Memang di zaman sekarang, terasa kurang romantis jika hanya tercatat dalam lembaran-lemabran kertas yang kelak akan usam, terlebih semua orang bisa membacanya serta tak lagu mengomentarinya.

Maaf sebelumnya :h:, maaf jika aku lancang membaca tulisanmu, tulisanmu yang tercecer dalam wall facebokmu, semua berawal dari ketidak sengajaan. Di beranda facebookku, kubaca tulisan-tulisanmu, tentang curhatan yang sudah lama aku tak membacanya, dan pagi ini aku membacanya kembali. Tentang semua yang kamu rasakan, tentang rasa yang tak sempat kamu katakan, hingga timbul akan keraguan dan penyesalan dalam hatimu.

Waktu begitu mendukungmu, kau terbebas dari semua tugas kampusmu, terbebas dari semua tekanan hidup yang membuatmu terpaksa mengatakan "Kapan aku bisa bebas?" :i:, dan sekaranglah saatnya, saatnya kamu mengeksekusi waktu yang dulu menahanmu untuk mengatakan cinta, rindu, penyesalan, suka dan cita kepada seseorang yang sudah lama mengendap dalam hatimu. :k:

Aku bahagia, ternyata kamu bisa bangkit dari cinta yang dulu terpuruk , dan kitapun mengakhirinya. Bagiku itu hal yang wajar dalam sebuah hubungan prasaan, tentang ikatan hati yang akan rapuh kecuali dengan ikatan pernikahan. Aku mencoba berdamai dengan waktu, dengan sinar rembulan dan bintang, dengan catatan-catatan kertas tentang aku, kamu dan kita, dan kini sudah usam. Hingga namamu tertulis buram, sulit untuk dibaca.

Kau begitu berbeda dahulu dengan yang sekarang, si pemalu kini telah menjelma wanita pemberani, menebar kata-kata propaganda, kata-kata cinta yang dulu aku mengharapkannya, tapi tetap saja kamu sembunyikan, kata-kata rindu dan harapan. Semua aku saksikan dengan kesadaran, ternyata di balik keluguanmu, tersimpan sifat yang aku menamainya 'transparan' akan mengungkapkan rasa rindu, cinta, harapan dan ketidak adilan yang dahulu aku tak pernah mendapat kejujuran tentangnya :a:.

Satu yang aku pinta darimu, bersikap wajarlah jika kamu berusaha untuk mencintai seseorang, karena sedikit masalah akan membuatmu bimbang. Cintailah sekedarnya agar kau tak jatuh lebih dalam saat cinta itu pergi meninggalkanmu :l:. Perindahlah sikapmu dalam menjaga prasaan hati seseorang, karena jika hati  yang tersakiti, hendak kemana obat kamu cari.

>

BIARKAN IA TERKEMBANG MENJADI KATA-



Sudah lima tahun kita tak pernah menyapa dan tak pernah bertatap muka, ruang dan waktu telah berperan penting selama kurun waktu lima tahun adanya. Kita telah mengambil jalan kita masing-masing.

Semua tentang kita adalah siluet belaka yang tampak pudar di kenang masa. Aku tak pernah tahu apa yang telah terjadi padamu selama lima tahun lamanya, mungkinkahkamu bertanya demikian pula padaku. Kita percaya, kita sudah dewasa, meski terbilang sifat kita masih kekanak-kanakan, itulah warna hidup yang harus kita terima. Aku tak ingin ciri khas kita seperti anak-anak kecil pada umumnya hilang begitu saja, mungkin kamu tak akan pernah mengenalku jika aku berubah drastis atau lidahmu akan kelu dan bertanya-tanya tentangku saat aku tak sengaja terhempas di hadapanmu.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, bagiku waktu yang cukup lama. Saat kepergianmu ke kota Surabaya untuk melanjutkan belajarmu di tingkat SMA, konon kabar kamu telah di terima di salah satu perguruan tinggi di kota ‘Bung Tomo’ itu. Hari-hariku hampa , kosong bagai kertas tak bertuliskan kata. Meski di luar sana aku mempunyai banyak sahabat yang bisa aku ajak bercengkarama hanya sekedar untuk melepas lelah. Tapi tetap saja hidupku yang sesungguhnya hampa.

Terasa sulit untukku mengubur semua lembaran-lembaran kenangan bersamamu, lembaran yang dulu rapih dengan warna-warni tentang kita, lembaran yang dulu terukir suka cita, canda dan tawa. Lima tahun, Aku tak pernah tahu apa yang ada dalam benakmu tentang aku?, apakah kamu masih seperti yang dulu ? atau sudah berubah menjadi sosok yang tak lagi suka dengan lembaran-lembaran kenangan masa lalu kita?

Genap sudah lima tahun adanya, tanggal demi tanggal, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun yang ku tandai tepat di almanak yang tergantung di dinding kamarku yang dulu puith bersih, dan kini telah kusam tak berwarna.

Belum ada kata „apa kabar‟ atau sekedar „hai‟ yang terucap dari kamu maupun aku, yang menandakan bahwa percakapan kita harus segera dimulai. Tapi seperti ada kekuatan lain yang hadir, yang memaksa kita untuk bungkam. Kamu, yang biasa berekspresi ini itu tanpa malu-malu, mengapa “tak bicara lebih dulu? Dan aku, mengapa aku mendadak gagu? Aku menangkap pesan dari ekspresi itu, sinyal yang coba kita pancarkan: kita sama-sama tidak tahu jawabnya apa. Kita bagai tak pernah mengenal sebelumnya.

Tampak jelas nama akun facebookmu mucnul dalam daftar obrolan facebookku, begitupun akun facebookku muncul dalam daftar obrolan facebokkmu. Karena dulu kita sudah sepakat untuk tidak mengganti akun facebook kita masing-masing, agar tidak sulit ketika ada kebutuhan mendadak di antara kita. Aku yang sejak tadi diam hanya memandangi layar monitorku, sesekali aku berbisik ‘Sedang apa yang kamu lakukan di sana?’, tapi entah mengapa, keadaan semakin begitu terjepit, tak satupun di antara kita untuk menocba saling menyapa, atau memang kamu tak lagi mengenaliku.

“Masih online ?”

Keadaan yang hampa nan jenuh kini menjadi buncah dan gaduh, meski Aku tahu, bukan itu yang sebenarnya aku inginkan, terasa di buat-buat olehku.

“Masih, apa kabar?”

“Baik, gimana kabarmu?”

“Baik”

Jawaban kamu kini begitu pendek, mungkin agar seirama dengan pertanyaanku barusan, tapi bukan itu yang sebenarnya aku inginkan, tapi lebih dari itu. Lebih dari apa yang dulu kita pernah perbincangkan saat aku mendapatimu di dapur yang sibuk mencuci piring. Aku mulai merasa sesak, sesak dengan keadaan yang begitu kaku, jawabanmu mulai membuatku gugup, entah apa yang harus aku tanyakan lagi padamu? ‘Tuhan masihkah dia mengenaliku?’ bisikku yang mulai ragu akan kenyataan dirimu.

Perlahan, aku mulai mencari celah, agar aku bisa menenangkan saraf-sarafku yang mulai tegang. Perlahan nafasku ku tarik dan ku hembuskan ke alam bebas. Mulai sedikit tenang rasanya dibandingkan tadi.

“Kaka dimana?”

“Kaka di Jogja, kamu dimana?”

“Aku di rumah”

Aku mulai bertambah yakin, tapi di sisi lain aku mulai bertanya-tanya, tuluskah pertanyaanmu atau hanya sekedar menghilangkan kehampaan di layar monitormu. Di saat yang sama aku mencoba berprasangka baik padamu. Giliranku yang mengetik sebuah kalimat agar hilang rasa gugup dalam diriku,

“Lagi liburan yah? Gimana kuliahmu, oh ia... kamu masih inget ga sama jam warna pink yang dulu kamu kasih ke aku?”

Maaf aku mulai bertanya banyak ini dan itu, agar kamu mulai berpikir tentang jawaban dan tentangku.

“Hemzz... ia donk liburan, seneng banget bisa kumpul sama keluarga, kuliah yah... selama ini lancara-lancar aja, cuma terkadang kikuk kalo suruh ngerjain tugas :h: ”

Prasaanku mulai tak nyaman dengan jawabanmu, ada kejanggalan yang mungkin kamu sengaja. Mataku mulai berkaca-kaca, pipiku mulai becek padahal hari tak hujan.

“Lupa yah sama jam pinknya?”

Ku ketikan kalimat yang sama, tujuanku hanya untuk meyakinkan kamu,

“Dah simpan aja, ga usah di bahas kali”

Mata yang berkaca-kaca kini mulai nyata, pipiku mulai basah seolah tak bisa menerima jawaban yang kamu berikan, secepat kilat ku usap pipiku yang becek dengan lengan bajuku.

“Dah lima tahun ga pernah kontekan lagi, kangen nih hehehe”

Kuselipkan sedikit simbol senyum, agar Kamu kembali sadar akan waktu yang cukup lama, yang kini mulai menghapusku dari ingatanmu.

“Maen aja kerumah, udah dulu yah, aku mau tidur dah malem”

Belum selesai aku bicara denganmu, kamu mengakhirinya begitu saja tanpa kesepakatan bersama, sungguh kamu dimataku berbeda sekarang ini, yang dulu suka aneh, lucu kadang kamu memaksa aku untuk menjawab tebakanmu yang kamu sendiri tak tahu jawabannya, di sana kita kita akan tertawa bersama. Sungguh aku tak tahu apa yang selama ini terjadi denganmu, siapa yang selama ini kamu pergauli hingga kata-katamu tak lagi sedap untuk di dengar. Aku mulai sadar akan dunia kita yang sekarang berbeda, berbeda dari semua segi. Mungkin untuk saatnya aku harus menerima kenyataan sosok yang dulu lugu kini berubah menjadi sosok yang mulai di hinggapi rasa ragu.

Aku menyadari sesuatu bahwa bagian yang paling disesalkan dari kisah kita adalah kenyataan yang berbiacara “Dulu, antara kamu dan aku pernah ada sebuah rasa yang belum sempat terkembang menjadi kata.”

>

KU TITiP SURAT UNTUKNYA-



Jalanan masih terlihat sepi, kendaraan masih terpakir angkuh, udara pagi  itu masih sejuk, tiada polusi dan juga bau yang menyengat tajam.Tapi hari itu aneh sekali, padahal di tengah kota, tapi kenapa begitu mengerikan komplek perumahan Bunga Melati ini. Tak seperti biasanya, jika menjelang pagi, tukang sayur keliling sudah berkoar-koar, suaranya menggaung di sudut-sudut komplek perumahan ini, para ibu berduyun-duyun berbelanja sayur mayur, ikan tawes atau sekedar membeli tahu, tempe untuk sarapan pagi. Aneh terasa, asing dan penuh misteri bisikku. Tapi aku masih   terus berjalan menyusuri jalan-jalan komplek perumahan ini, sepanjang perjalanan tak satupun aku melihat batang hidung orang, biasanya, pak Sobari sudah standbay di beranda rumahnya dengan secangkir kopi yang masih mengepul, tak ketinggalan koran yang memuat pristiwa atau berita terbaru tentang negeri ini selalu ia baca. Tapi kini, ia tak terlihat, hanya segelontong koran yang terpajang di atas meja tanpa kepulan asap kopi.

Aku mulai bertanya “Pada kemana penghuni komplek ini ?, aneh”. Tapi aku masih terus berjalan meskipun di benakku masih menyimpan pertanyaan yang mungkin konyol.

Kurang lebih sudah satu kilo aku berjalan kaki di komplek perumahan bunga melati, tapi tetap saja sepi, hampa yang kupandangi. Pagi itu aku berniat memberikan surat kepada Pak Tohir.

Sebelumnya, tepatnya malam jumat, aku baru saja usai melaksanakan sholat Isya di Mushola Al-Iman yang letaknya paling terpencil di sudut kota, cukup jauh dari komplek perumahan bunga melati. Aku sendiri bukanlah orang perumahan, keluargaku tinggal di jalan Bungur nomor 09 jakarta selatan, hanya butuh 10 menit untuk sampai ke komplek bunga melati menggunakan angkutan umum, dan 30 menit jika berjalan kaki. Usai melaksanakan sholat Isya, bersama jamaah yang ada pada malam itu, seperti biasa, usai salam, aku beristigfar dan membaca tasbih, tahmid dan takbir 33 kali, memang itu sudah lazim di kalangan ummat muslim. Semua jamaah sudah kembali pulang ke rumahnya masing-masing, tinggal aku sendiri di dalam mushola. Rasanya bathin begitu tentram dan tenang di malam itu, “Inikah hakikat dari sholat?” gumamku.

Mushola itu begitu kecil, ukurannya hanya 7 x 5 m, hanya bisa menampung 20 orang, tak ayal jika sholat dzuhur tiba, orang-orang harus ihklas mengantri karena kuotanya hanya bisa menampung 20 orang saja. Mulai dari sopir, pedagang, pekerja, pengangguran dan masyarat sekitar yang sholat di sana. Hanya sholat subuh saja yang lengang, karena sebagian orang masih asik dengan tidurnya.

Aku terbangun kaget, ternyata aku tertidur di dalam mushola, mungkin terlalu cape sehabis kerja manggul di pasar. Ku lihat jam yang sudah kusam di dinding mushola, jarumnya menunjukan jam setengah sepuluh malam. Aku segera bangkit, dan ku basuh wajahku dengan air, biar kantukku hilang. Kumatikan semua lampu dan kipas yang sejak tadi menyala, lalu aku keluar dan ku tutup pintu mushola yang sudah rusak engselnya, beruntung hanya satu engsel yang rusak, masih ada satu engsel lagi yang masih bisa menopang pintu mushola itu. Baru sepuluh langkah aku meninggalkan mushola, jalanan  begitu gelap, lampu penerang yang biasa menyala di malam hari, kini mati karena sudah dua hari rusak dan belum di ganti. Aku berjalan dengan penuh santai, namun tiba-tiba pundakku ada yang menepuk dari belakang, seketika aku kaget ! hampir copot jantungku malam itu, ku putar arah badanku, sosok lelaki yang sudah tua, memakai pakaian putih bersih, berjalannyapun masih tegak berdiri.

“Nak tolong sampaikan surat ini untuk bapak Tohir yang ada di komplek bunga melati”,

Aku terbengong sebentar dan bulu kudukku merinding hebat, “Siapa kakek ini?”, aku masih bertanya dalam benakku antara tidur dan sadar.

“Kakek siapa namanya ?”

Aku langsung menanyakan identitasnya, tapi ia tak menjawab dan terus berlalu meninggalkan aku yang masih berdiri mematung di kegelapan malam.

“Astagfirullah... siapa tadi ya kakek itu, kok misterius banget !”, sepanjang jalan, aku masih saja penasaran dengan kakek tua itu. Tak terasa akupun tiba di rumah tepat jam sepuluh malam.

Ku buka pintu kamarku, lalu ku banting tubuh ini ke ranjang bale yang hanya beralaskan tikar satu helai dan bantal yang sudah lama kusam. Sungguh, malam itu tidak bisa tidur cepat dan pulas, wajah misterius kakek itu masih terus menghantuiku.

“Bismika allahumma ahya wabismika amut”, ku kamitkan do’a berharap Tuhan menjaga tidurku malam itu dan masih bisa bangun pagi. Ku gulingkan badanku sana kemari, tetap saja kakek tua itu masih menghantuiku, tak terasa sudah jam satu malam mataku masih saja siaga.

“Allahu akbar Allahu akbar....” kumandang adzan subuh mengalun merdu dari salah satu masjid yang lumayan dekat dengan rumahku. Aku segera bangun, dan mengambil air wudhu di kamar mandi belakang. Bagiku waktu subuh adalah waktu yang istimewa, karena di waktu itulah dua Malaikat turun ke bumi untuk mendoakan manusia yang senantiasa menjaga taat kepada Tuhannya. Guru sekolahku pernah berkata “Rajinlah kalian bangun di waktu subuh, jangan lupa sholat subuh, karena di waktu pagi itulah, dua malaikat turun ke bumi untuk mendoakan kita yang senantiasa rajin ibadah, sedekah dan lain-lain, malaikat yang satu berdo’a “ Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang selalu berinfak” dan yang sat lagi berdo’a “Ya Allah berikanlah Kencura bagi orang yang bakhil”.

Ku lihat ibu sudah sibuk di dapur, ibu selalu bangun lebih awal dariku. Ia adalah sosok ibi yang sempurna untukku, kasih sayangnya tak pernah pudar, ketika aku masih menganggur, ia tak pernah memarahiku, justru sikap ibuku itulah, aku mulai berpikir dan berbenah, dan aku pun mencoba mencari kerja dan alhamdulillah saya kerja jadi tukang panggul, dalam hatiku aku selalu berdo’a “Ya Tuhan terimaksih atas pekerjaan yang mungkin hina, tapi aku bersyukur kau tunjukan cara mencari rizki yang halal ini, Tuhan perbaikilah nasibku”.

Usai solat subuh, aku masih ingat amanah kakek tua itu, bergegas aku berjalan ke komplek bunga melati untuk mengantarkan surat kepada pak Tohir. Pak Tohir adalah sosok orang yang sederhana, ia adalah seorang pemuka agama yang konon kesantuan dan kesederhanaannya membuat namanya tercium sampai ke negeri paman Syam, ia di undang untuk mengisi pengajian atau dakwah untuk muslim yang berada di paman Syam. Ia begitu mashur di dalam dan luar negeri. Ia pernah bercerita ketika mengisi pengjian di masjirlahird komplek bunga melati. Ia terlahir dari keluarga miskin, sehingga pendidikannya hanya sampai di bangku sekolah dasar saja, kemudian ia melanjutkan ke pendidikan pesantren salaf, yang kerjaannya hanya mengaji qur’an, hadist dan kitab-kitab kuning saja, tak ada lagi selain itu. Dan bersyukurnya, di pesantren itu ia gratis, karena pertimbangan ekonomi keluarganya. Ia berbeda dengan santri lainnya, ia begitu rajin, tak ia biarkan waktu berlalu tanpa mengaji atau membaca buku-buku agama. Pak kyai ( pengasuh pesantren ) begitu bangga dan sayang kepada santri yang bernama Tohir ini. Tohir satu-satunya santri yang mengerti adab dan perilaku terhadap guru, setiap pagi sehabis ngaji ba’da sholat subuh, ia selalu berinisiatip menyapu halaman dan mengepel rumah pak Kyainya. Tak heran ia begitu di sayang dan ilmu yang di sampaikan gurunya selalu terpatri dalam dadanya.

Delpan tahun ia menuntut ilmu agama di pesantren Al-kirom, dan hasilnya kini ia bisa merasakan sendiri. Berkat keikhlasan, keserhanaan dan kecerdasan dalam dakwah dan mengayomi masyarakat dengan dalil-dali yang sudah membasah di lidahnya itu, kini ia menjadi orang sukses dan terpandang. Ia tak pernah berpikiran bisa pergi ke luar negeri apa lagi negeri paman syam, tapi dengan izin Allah ia ternyata bisa pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan dakwah di luar negeri, padahal ijazahnya hanya ijazah sekolah dasar saja. Rumah yang sekarang ia tempati bersama keluarga besarnya, yang berlokasi di komplek perumahan bunga melati, bukanlah ia beli dari hasil jerih payahnya selama mengabdi untuk ummat, tapi ada pejabat di negeri ini yang berbaik hati kemudian ia membelikan rumah yang berukuran besar, seperti perumahan di Pondok Indah, dan menghadiahkannya kepada pak Tohir dan keluarga besarnya. Sebelumnya pak Tohir tinggal bertetangga dengan rumahku. Tinggalah pak Tohir dan keluarganya kurang lebih sudah hampir lima belas tahun di komplek perumahan bunga melati dan mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Majlis halaqohnya selalu ramai di kerumuni masyarakat untuk menimba ilmu dari seorang  alim yang penuh dengan kesederhanaan.

Ku kerutkan keningku untuk kesekian kalinya, jalan masih saja sepi tak ada tanda-tanda kehidupan. Kini aku sudah sampai di pertigaan, kurang lebih 30 meter lagi aku sampai ke rumah pak Tohir.

Tiba-tiba langkahku terhenti kaku, benakku menyimpan pertanyaan hebat, keringatku dingin, darah seperti terhenti mendadak, ku lihat dari jarak 10 meter sekelompok manusia mengerumuni dalam dan halaman rumah bapak Tohir, ku tajamkan lensa mataku penuh keheranan, “Ada apa ???!”

Terparkir kendaraan mobil, sepeda motor di halaman rumah pak Tohir, di sepanjang jalan ku lihat orang menagis sedu sedan, hatiku dag dig dug tak karuan, aku mencoba mendekat, tapi terasa berat sekali langkah kakiku. Ku lihat bendera kuning berkibar setengah tiang, dengan sedikit keraguan aku menerobos di antara lautan manusia, surat itu masih aku genggam erat di tanganku, aku berhasil masuk ke dalam dan menyaksikan langsung, ternyata pak Tohir telah di panggil oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Mataku berkaca-kaca, perlahan tetesan air kecil membasahi pipiku. Wajahnya senyum nan sayup, dingin sekujur tubuhnya, namun ada yang mengharukan, beliau meninggal dalam keadaan sholat.

Aku tersadar  “Lalu apa hubungannya isi surat ini dengan pak Tohir ?”, aku langsung menyerahkan surat itu kepada ibu Fatimah, ia adalah istri dari pak Tohir.

“Assalamu’alaikum”, aku mengucap salam

“Wa’alaikum salam...” jawab bu Fatimah, sambil menangis pelan “Eh... Ahmad, tumben datang ke rumah ibu, kamu tahu berita dari mana, kalo bapak meninggal ?”

Dengan penuh kebingungan aku menjawab,

“Ia bu saya minta maaf baru bisa maen ke rumah ibu, adapaun tahu dari mana kabar kalo bapak meninggal, saya tidak tahu bu, saya kesini kebetulan mau ngasih suarat ini dari seorang kakek tua waktu malam jumat kemaren, katanya tolong kasihkan surat ini kepada pak Tohir, saya juga ga tahu isinya apa, makannya saya datang ke sini”, ku sodorkan surat itu ke ibu Fatimah, dan perlahan surat itu di buka dan di baca, kulihat bibir ibu fatimah bergetar ketika membaca surat itu, air matanya tumpah ke bumi, seraya menangis, “Bu ada apa ? apa isi surat itu ?” tanyaku semakin penasaran.

“Nak kamu dapat dari mana surat ini ?, kamu tahu isinya apa ?”

“Saya dapat ini dari seorang kakek tua, memakai pakain serba puith, tapi jalannya masih tegap seperti anak muda, kalo isinya saya tidak tahu”.

Ibu Fatimah pun memberikan surat itu kepadaku, aku pun membanya, tidak banyak tulisan yang tertulis di dalam surat itu, hanya kalimat,

“Wahai jiwa yang tenang (beriman) [] dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya []” QS. Al-fajr : 27-28.

Aku pun menangis haru dan penuh syukur, bahwa kakek tua yang menemuiku di malam jum’at itu, bukanlah manusia biasa melainkan Malaikat Allah yang memberi kabar gembira untuk bapak K H. Tohir dan keluarganya.

Sebulan setelah wafatnya bapak Tohir, aku di panggil ibu Fatimah untuk mengurus taman pendidikan qur’an (TPQ) di rumahnya, sekaligus aku di biayai untuk melanjutkan sekolah ke sekolah Madrasajh Negeri 2 Jakarta Selatan untuk menimba ilmu agama dan segala di siplin ilmu lainnya.

Seketika itu pula aku sujud syukur pada Tuhan yang tengah mengijabah do’aku di malam itu, orang tuaku kembali tersenyum lebar melihat anaknya kembali ke bangku pendidikan untuk menjadi orang berilmu dan berguna seperti halnya almarhum bapak KH. Tohir tercinta.

>
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates