SELAMAT UAS ADIK-ADIKKU

Catatlah baik-baik adik-adikku sayang. Ujian yang akan kalian jalani besok di sekolah bukanlah sesuatu yang mengharuskan kalian membaca bulak-balik setiap halaman buku yang akan diujikan. Bukan pula mengharuskan kalian tidur lebih larut dari biasanya hanya kerena sibuk dengan muraja'ah pelajaran yang akan diujikan. Bukan pula mengharuskan kalian harus duduk berlama-lama bersama sekawanan buku-buku pelajaran yang sebenarnya itu jarang kalian lakukan sebelumnya, "May be". Bukan pula mengharuskan kalian sibuk mengernyitkan dahi karena khawatir rumus-rumus dan materi hafalan tiba-tiba blank bagitu saja esok hari. Bukan pula mengharuskan kalian cuek pada orang lain di sekeliling kalian hanya gara-gara tak ingin ada orang lai yang membuyarkan konsentrasi yang sudah bulat padat. Bukan pula mengharuskan kalian membunuh waktu secara pelan-pelan seolah tidak ada waktu yang sia-sia hanya arena sibuk dengan setumpuk buku pelajaran. Bukan ! Bukan sperti itu. Tapi lebih dari itu, jadikanlah waktu-waktu kalian setiap harinya adalah ujian. Ujian bagaimana cara kalian memerangi nafsu jahat yang ada pada diri kalian. Ujian bagaimana cara kalian memecahkan masalah, Ujian bagaimana cara kalian bersabar atas segala masalah yang datang silih berganti. Ujian bagaimana cara kalian mempertahankan prestasi, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Ujian bagaimana cara kalian memepersembahkan yang terbaik untuk kedua orangtua kalian di rumah. Ujian bagaimana cara kalian memepersembahkan yang terbaik untuk ustadz dan ustadzah yang tak pernah mengenal lelah dalam membimbing dan mendidik kalian. Ujian bagaimana cara kalain mempersembahakan yang terbaik untuk dunia dan umat islam dimasa yang akan datang, Dan ujian bagaimana cara kalian mempersembahkan yang terbaik unutk Allah swt. yang tak pernah berhenti mencurahkan nikmat dan ilmu pada kalian semua. Jaga dan amalkan ilmu yang telah diajarkan.
Dan terpenting lagi adalah sibukanlah kalian dengan berdo'a kepada Allah swt. agar kalian diberi kemudahan. Karena tak ada senjata yang paling ampuh bagi seorang muslim melainkan do'a.

Tidaklah seseorang menjadi mulia sebelum ia diuji terlebih dahulu 

Selamat menempuh ujian akhir sekolah  'UAS' ! Keep smile......... :) 

>

Ia Teramat Suci

Prasaan diri kita cukuplah kita sendiri yang tahu. Simpan ia baik-baik dalam bejana hatimu. Jangan sampai bejana itu bocor lalu tercium oleh tikus-tikus busuk prasa. Ia adalah mahkota yang amat teramat suci untuk kita jual obral di pinggir jalanan dengan harga yang tidak sepantasnya. Maaf, terkadang kita sendiri yang ceroboh mengobral prasaan diri kita di 'tempat umum' yang justru diam-diam itu dimanfaatkan oleh tikus-tikus busuk prasa sebagagai cara untuk menjatuhkan kita. Sekali lagi ia amat teramat mahal untuk kita perjual belikan di 'tempat umum'.

Cukup hanya diri kita dan Tuhan yang Maha tahu akan  prasaan yang bergejolak dalam diri kita, Jaga dia. Rawat dia. Manja dia agar menjadi sesuatu yang membuatmu bahagia di akhir penantiannya.


>

BUKAN ! BUKAN ITU


"Maaf." Hanya ucapan maaf yang bisa aku ucapkan dari kejauhan. Dari sini, dari tempat yang kini aku belum sempat beranjak. Dari sini, dari tempat yang saat ini aku tak bisa membayangkan warna raut wajahmu yang tetiba berubah saat aku putuskan 'obrolan' siang itu. Tetiba rasanya kau kesal, gusar dan mungkin sampai-sampai kau tak ingin lagi mengenaliku seperti dulu lagi yang suka manut dan menurut apa kata perintahmu. Maaf, hanya kata itu yang bisa ku sajikan dari kejauhan atas segala kekurangan, kehilafan dan mungkin ketidakberdayaanku untuk mengabulkan permintaanmu. 

Seperti yang kau pernah bilang padaku waktu itu, 10 tahun yang lalu. Saat aku masih tumbuh sebagai manusia yang polos yang tak mengerti alur bicaramu. Tak memahami gaya bicara dan bahasamu. Atau lebih mudahnya aku yang masih manut dan nurut apa kata perintahmu. Sepuluh  tahun lalu. Ku rasa kau ingat itu. Kau pernah mengatakan, bahwa setiap pribadi manusia akan memilki cerita tersendiri lima, enam, tujuh atau bahkan sepuluh tahun kedepan seiring bergilirnya waktu. 

Kini, tepatnya sepuluh tahun aku berkelana membawa raga dan jiwaku menaiki puncak dan ketinggian. Juga menuruni lembah dan turunan. Mungkin tanpa kau sadari aku telah masuk dalam kerangka cerita dan ucapanmu sepuluh tahu lalu. Aku ingin membuat cerita tersendiri untuk hidupku lima, enam, tujuh bahkan sepuluh tahun kedepan, seperti katamu waktu itu. Aku ingin tak lagi hidup bergantung padamu. Aku ingin tak lagi memelas belas kasihan darimu. Aku tak ingin mendengar kata-kata nasehatmu lagi. Bukan, bukan aku ingin menutup rapat-rapat lubang telingaku tak ingin mendengar kata-katamu lagi. Bukan, bukan itu yang kumaksudkan. Tapi aku bosan dengan diriku sendiri yang hanya mendengar, merekam, membisu bagai patung seolah menjadi pendengar setiamu tapi tak pernah melakukan aksi nyata dari nasehatmu. Dan kembali hanya menyesali. Merenungi. Tapi diam tak berani aksi untuk benar-benar menjadi apa yang kau inginkan. Justru itu yang membuatku merasa tertawan. Terikat. Terkekang. Terpenjara. Atau bahkan kata-katamu hanya menjadi racun buatku, sehingga aku terlalu takut untuk tidak bisa menjalani hidup sebagai seorang laki-laki yang ditakdirkan oleh banyak keterpisahan dan kesendirian sejak sepuluh tahun silam.   

Maaf, tak henti-hentinya aku ingin mengucapkan kata maaf padamu sebagai penekanan bahwa ini adalah tanda penyesalan dan sekaligus permohonan agar bisa dimaafkan atas segala kesalahan. Bukan, bukan aku tak ingin menuruti permintaanmu tapi aku ingin sekali bahagia tanpa lagi memelas belas kasihan darimu. Jangan, jangan kau minta aku untuk membalas budi atas kebaikanmu padaku. Sungguh ! sungguh sampai kapanpun aku tak akan bisa melakukan itu. Kau terlalu baik bagiku yang pernah tuhan ciptakan untuk sentiasa mengulurkan tanganmu saat aku jatuh, lemah tak berdaya.

>
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates