Dosen Killer ?


Killer gila ! Gila abis ! Dosen psi...... ! "Husss ! Psi... apaan ?." Yang jelas bukan dosen psikologi, jauh kalee.... mana pantes dosen yang everyday bikin dada gw and temen-temen di kelas pada sesak napas, bikin males masuk kelas, tapi masuk juga ke kelas, secara ! Kepaksa gitu takut rosib hehehe, gw ulangin itu dosen ga pernah bikin gw sama temen-temen gw bisa ngadem, bisa santai dikit sekedar nyenderin punggung ke bibir kursi, pokoknya bawaannya panas mulu, gerah, tegang, mata ga boleh sembarangan kedip apa lagi sampe nyoba merem dikit doank, jangan pernah coba-coba mata loh ngeliat ke luar pintu atau lapangan di depan kelas, sumpah lo bakal di keluarin dari kelas, bukan cuma di keluarin doank tapi dapat iqob ! Sumpah. Apa lagi sampe naum ! ga kebayang tangannya yang keker, telapak tangannya gede banget, keras kaya baja dilapis besi tiba-tiba mendarat di punggung atau pundak loh "plaaakkk... ! Anta mai' ? Madja amilta fil baarihah?!" Spontan itu dosen berubah jadi wartawan kompor, saat itu juga loh bakal di introgasi di tambah pandangan matanya bro.... bikin muka loh merah renyah hahaha...
Kata temen gue, "itu dosen gua akuin pinter banget, tapi sayang cara ngajarnya killer abis."
Gue ga tau kesurupan jin iprit darimana tuh dosen kalo ngajar kudu kesel mulu bawaannya. Gue sendiri sering banget jadi objek imelan dia, belajar dari pengalaman sejak awal gue di ajar sama dia, gue gak mau banyak tingkah atau sok caper saat dia ngajar, gue lebih baik kaya orang bego. Posisi duduk gue seperti biasa, dari awal gue masuk tuh kampus, gue lebih suka duduk di paling belakang. Ada beberapa kemungkinan dan urgensi kenapa posisi belakang paling Posisi Wenak PW.
1. Posisi paling wenak.
2. Ga terlalu jadi bahan objek perhatian dosen.
3. Kalo borring dengerin nyerocosnya dosen, bisa bercanda sama tetangga di sebelah gue* (*aturan ini ga berlaku buat dosen yg sedang kita bahas).
4. Kalo mata dah pegel melek mulu liatin dosen, bisa di turunin alias molor, gaya gravitasinya bisa di atur sendiri.
5. Ga terlalu tegang and shok kalo ga bisa jawab soal.
6. Belum tentu yang duduk paling belakang itu keliatan bodoh, kaya gue sok tawadhu hehehe
Dari alasan yang udah gue paparin di atas, yang palinh urgen cuma nomor 4. Satu lagi biar bisa browsing, chating and sms-an, berlaku saat gue punya full service internetan. Kalo ga punya balik lagi ke nomor 4.
Bagi Gue belajar itu ga harus loh duduk berjam-jam di kursi kelas sampe leher dan mata loh pegel merhatiin dosen nyerocos. Buat gue belajar itu menyangkut semua aspek kehidupan, semua yang kita lakukan di punggung bumi yang bulet ini itu termasuk proses belajar.
Kesimpulan or Taqwim ;
#belajar itu dimana aja
#belajat itu kapan aja
#belajar itu dalam sikon apa aja
#intinya selama ruh loh masih nempel di raga loh selama itu pula kewajiban belajar harus continue.

>

Berharap

Berharap. Semoga masih ada harapan untuk bisa kembali kesana esok hari. Semoga saja sang mentari masih berbaik hati untuk sekali lagi dan seterusnya memberi kehangatan padaku. Semoga saja angin masih berputar, berpilin memberi kesejukan padaku. Semoga saja malam dan siang masih sempat aku selami esok hari. Ya, aku ingin semuanya terjadi esok hari.
Sudah bosan 'borred' aku rasakan disini. Di tempat yang aku memulai kehidupan setelah aku berumur duabelas tahun silam. Aku ingin tak lagi mendengar pekik suara itu, pekikkan yang membuat gendang telingaku roboh. Dadaku retak seperti di sambar petir saat hujan menggelegar. Ku tak ingin ia terlalu lama membenciku. Aku tak ingin mengotori setitik hatiku yang begitu lelah aku memeliharanya dan kotor seketika hanya karena aku menaruh perasaan 'kotor' tentang dia. Aku tak ingin melihat lagi kegaduhan berserakan di lantai, dinding, rak bahkan halaman rumah itu. Aku tak ingin mendustai hatiku yang perlahan menanam benih kebencian yang tak jelas. Aku tak ingin mendapat marah dan murkaNya.
Tinggalkan ! Sesekali aku membathin dan teriak "tinggalkan !". Ya aku ingin meninggalkan kebaikan, kebusukan, kesenangan dan penderitaan di halaman rumah sempit itu. Aku tak ingin membawanya terlalu jauh mengikuti alur hidupku yang aku bawa sebentar lagi. Cukup disana saja. Aku tak ingin terulang dan mengulangi lagi. Aku memilih alur hidupku, bukan orang lain.
Hidup itu plihan, dan pilihan adalah hak individu anak manusia. Jangan pernah mengacaukan apa yang aku jalani dan jangan pernah menjamah saat aku sedang mersakan ketenangan bersama duniaku yang suatu saat ia akan pergi begitu saja tanpa harus cape dan lelah memikirkan kalian yang memaksa aku harus hidup dalam 'kebebasan'
Dunia bagiku sudah cukup untuk mengukur kebaikan dan kebusukanku. Cukup tau akab dimana aku terlempar "surga atau neraka".
Tuhanku Maha tau, dia tidak akan salah dalam memutuskan. Dia hakim. Dia presiden. Dia segala-galanya. Aku di ciptaNya, terserah hendak di buat apa aku di dunia dan kelak di alam kedua setwlah semuanya hancur lebur tak berbekas.
Tirani ! Tirani ! Tirani ! Sungguh aku durhaka ?

>

AFEKSIKU PERGI

Afeksi ; rasanya tak ada. Rasanya tak pernah aku merasa. Rasanya tiada. Rasanya musnah. Hilang tak berbekas. Aku ingin sekali pergi ke tanah lapang. Aku ingin pergi ke pantai yang beradu ombak, disana ingin sekali aku pekikkan suara hatiku yang setiap detik protes tentang ketidak adilan. Tentang semua kebusukan. Tentang mulut manusia yang selalu menghujamkan duri kedalam gorong-gorong hati manusia.
Afeksi ; hanya sebatas simbol. Bukan kekelan yang tiada berarti. Samarpun tidak. Sungguh ia tak nampak dari sosok manusia itu. Tak tahan, ingin sekali aku masuk ke dalam ruang kedap suara, lalu disana aku pekikkan suara protes "ganyang !" Yang kesekian kalinya.
Afeksi ; suram. Redup. Gelap. Tak bercahaya sama sekali. Pernah aku mencoba menyalakannya, beberapa menit atau beberapa jam ia redup lagi. Aku menangis. Aku sedih. Aku terhenyak. Aku terpukul. Hatiku sembab membiru karenanya.
Afeksi ; seperti memintal benang yang sudah kusut, "percuma kau akan menyesal menghadapinya, kau hanya akan menggerutu."
Aku bingung. Aku linglung. Aku merasa serba salah. Aku tak punya asa.
Afeksi, oh... afeksi, siapa yang tak mengenalmu? Siapa yang tak membutuhkanmu? Siapa yang rela di sekat hidupnya olehmu? Luar biasa aku binasa, hatiku kering krontang karenanya.

Dimanakah kau afeksi ; dimanakah rasa kasih sayang itu?

>
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates