SINERGI 2013

Pagi sudah tinggi bersama sinaran mentari, orang-orang menyambut hidup di pagi yang cerah ini.Tak terasa aku sudah memasuki awal minggu  dibulan maret 2013. Tapi aku selalu bertanya pada diriku? apa yang sudah ku lakukan untuk hidupku ini? atau sekedar bertanya, planing apa yang sudah kau rancang untuk maret 2013 ini?, ah ! sekali lagi aku menarik rambutku yang sudah mulai panjang yang belum lama di potong oleh penjagal rambut.
Banyak di sana-sini orang sudah memasang trik, strategi atau planing untuk mengisi maret 2013 ini. Mungikin anda pernah membaca kalimat "Sinergi 2013", dan kalimat itu pernah saya baca di beberapa media belakangan ini. Apa maksunya? awalnya aku juga bingung, apa arti dari sebuah kalimat pendek tapi membat orang yang membacanya terpacu untuk memberi makna hidupnya sendiri.
Berbilang hari, aku pun menemukan jawaban dairi sebuah kalimat di atas. Intinya adalah, percaya diri dan berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang belum sempat terealisasi di tahun sebelumnya. Tentunya perlu sikap optimis dan tak kenal putus asa, itu kuncinya.
Okelah, jika semua sudah tahu, kapan lagi untuk meraih mimpi itu kalau bukan sekarang, tepatnya setelah membca postingan ini. Mari bersinergi di tahun 2013 ini !.

>

DIA MASA LALUKU-



Selepas tamat dari sekolah dasar, di salah satu sekolah di jantung Ibu kota Jakarta, orang tua menyuruhku untuk mesantren sambil sekolah di daerah Tangerang. Sekolah madrasah tsanawiyah ‘MTs’ menjadi adaptasi baru bagiku. Aku lulus tahun 2003 silam. Tak ada kabar dari ibu untukku, apakah aku masih bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMA atau tidak. Aku pun mulai berpikir kesana kemari, dalam hatiku berbisik,” aku harus sekolah lagi !,” tapi aku binung harus tinggal dimana jika aku melnjutkan sekolah SMA di Tangerang, kemudian siapa yang membiayaiku?, karena aku memilih keluar dari asrama. Menurutku terlalu bosan tinggal di asrama selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Sudah saatnya aku keluar dari sana.

Setiap malam, aku terus berpikir bagaimana caranya, mustahil jika aku terus mengandalkan orang tua untuk membiayaiku, karena keadaan ekonomi  menjadi faktornya. Akhirnya, aku mendapat solusi malam itu, “bagaimana jika aku bekerja sebagai merbor masjid, dari situ aku akan mendapatkan uang, di situ juga aku bisa tinggal sebagai tempat berteduh.

Keesokan harinya, aku menemui teman yang juga seorang merbor masjid, spontan aku mengutarakan maksud kedatanganku. Bersyukur jawabannya membuatku sedikit lega dan puas, ia akan berusaha mengajukan permohonanku ke ketua DKM masjid tersebut. Malamnya, aku di panggil selepas isya oleh temanku tersebut, sekali lagi jawabannya membuatku puas. Aku di terima untuk menjadi merbot di masjid itu bersama dia.

Malamnya, aku berpikir bagaimana caranya untuk mendaftar ke sekolah SMA, aku pun banyak membuat permisalan mulai dari sekolah A sampai Z, sekolah seperti apa yang hendak aku pilih, SMA, SMK, Aliyah atau STM, tempat anak-anak berandal mencari musuh. Malam itu aku ambil keputusan, aku memilih sekolah Aliyah, bukan tanpa alasan. Pertama, aku lulusan MTs, bukan SMP, kedua, Aku berniat bukan hanya mencari ilmu di sekolah, tapi bagaimana memperbaiki diri lewat sentuhan guru-guru agama, karena Aliyah identik dengan peljaran agama dan juga murid-muridnya yang baik.

Setahun sudah, aku melalui perjuanganku di bangku Madrasah Aliyah kelas I, semua ku lalui dengan keprihatinan karena orang tua tidak bisa membantu biaya sekolahku. Bersyukur berkat keprihatinan dan kerja keras, aku duduk di kelas 2A IPA, sebenarnya dari awal aku memilih kelas sosial, tapi wali kelas dan guru Biologiku memaksaku agar masuk IPA, padahal aku sendiri tidak begitu PD, tapi menurut mereka nilai raporku tidak ada yang mengecewakan di tambah komentar dari guru Biologiku, “Aku tidak pernah absen dari kelas Biologi.”

Tawaran itupun aku terima dengan sedikit dada tersesak, ini adalah tantangan berat buatku. Aku harus belajar lebih giat, agar aku bisa memecahkan soal-soal Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. Jujur saja aku tidak terlalu suka dengan matematika sejak MTs, tapi yang lainnya aku suka.

Mentari pagi masih memberi harapan untukku, awal belajar pagi itu langsung di hadapkan soal matematika, aku kebingungan menjawab soal itu. Beruntunglah temen sebangku setia mengajariku. Tak terasa, aku sudah di ujung hari untuk meninggalkan kelas 2A IPA, karena aku akan duduk di bangku kelas 3 IPA. Itu patut aku syukuri, karena pertolongan-Nya dan usahaku.

Selama belajar di SMA mulai dari kelas 1-2 aku tak pernah memikirkan soal wanita atau pacar, meski teman-teman kalau pulang sekolah selalu bergandengan tangan di hadapanku.

Malam begitu larut, aku terbawa oleh larutnya malam. Saat itu sedang libur sekolah kenaikan kelas, selama liburan aku hanya tinggal di masjid, ngobrol, gurau dan bercanda  sama teman yang juga marbot masjid. Pikiranku pun mulai tak terkendali, kesepian dalam hidupku mulai aku rasakan malam itu. Bagai bunga kering kerontang rasanya. Bayangan teman-teman yang suka bergandengan tangan dengan pacarnya selalui membayang-bayangiku. Aku mulai memiliki perasaan dan mengenal yang namanya cinta kepada lawan jenis, hingga tak ayal aku sering berkhayal “Seandainya ada wanita yang aku cinta kepadanya, dan ia cinta kepadaku, tidak akan terasa sepi malam-malamku, ada tempat curhat dan merebahkan harapan, cinta dan cita-cita.” aku memohon kepada Tuhan, kiranya Ia memberikan penyejuk dan penghibur hati saat aku sedang gelisah dan ada masalah.

Sore itu sperti biasa aku sedang mengepel teras bagian belakang masjid, kotor sekali penuh debu karena musin kemarau dan tiupan angin yang begitu kencang, shingga debu-debu berterbangan membuat kaca dan keramik massjid kotor.

“Ka, rajin banget sih, lagi ngepel yah...? sekalian rumahku tuh hehehe,” sapa se wanita berkerudung  merah sambil mengayun sepeda, “Ia nih kotor banget !” Jawabku. Ia berlaju dengan sepedanya, aku pun melanjutkan rutinitasku.

Rembulan bersama bercak awan kembali menyeruak di kegelapan bumiku. Angin dan kicauan daun  menyapaku kembali.  Aku masih duduk melamun di bibir pintu sebelah kanan masjid, bagiku ia bagaikan pintu menuju surga. Pikiranku mulai terganggu, tak lagi bisa kritis. Sosok gadis sore tadi menggelebat dalam benakku, terus. Aku mulai mencari cara agar tahu tentang dia yang sebenarnya, nama dan seterusnya. Teman senasibku memanggilku agar aku cepat tidur. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun kembali menyusuri gadis itu lewat mimpiku.

Hari minggu adalah hari kerja bakti masjid, seluruh lingkungan masjid tanpa terkecuali tempat tidurku harus di bersihkan. Usai kerja bakti, kami berdua istirahat sambil menyantap gorengan dan secangkir tea hangat yang masih mengepul. “Habis kerja bakti yah ka?” tanya seorang wanita, namanya khusnul khotimah, dia anak tetangga dekat masjid, dia menyambangi kami yang sedang istirahat, di tangannya ada dua mangkok bubur kacang ijo buatan ibunya. “Ia, barusan selesai Nul, makasih Nul kacang ijonya yah,” jawab temanku.

Spontan aku menemukan ide, “bagaimana kalo aku nanya ke dia aja tuh, kali aja dia tahu soal itu cewe.”

Malamnya aku beranikan diri untuk menemui dia di serambi masjid, biasanya dia berada di beranda rumahnya bersama adiknya, Ica. “Nul ! kemari deh, ada perlu bentar minta tolong boleh ga ?” panggilku dengan suara agak sedikit serak basah, akibat makan gorengan terlalu banyak, “Boleh... ada apa ka, Nul ke situ dech.”

Aku ceritakan awal kejadianku dengan gadis itu pada Nul, sampai ku beberkan ciri-ciri gadis itu.

 “Oh... itu namanya Fitry ka, panggilannya Nenk, dia anak sebrang deket sini, dia kalo magrib suka berangkat ngaji ke rumah Ust. Aminah, tau ga? Dia itu anak semata wayang di keluarga dia, da punya kakak ataupun adik, mang ada apa sih ka ? naksir yah?,” Nul memberikan jawaban dengan komplit. Aku tersenyum dengan penjelasan Nul, membuatku ingin semakin ambisius untuk mendapatkan dia.

“Yah... naksir sih ada Nul, tapikan, kenal aja belum, makannya aku tanya Nul, Nul ngomong-ngomong punya nomor hp dia ga ?” aku mulai ceroboh.

“Ada ka, tapi wani piro hahaha J ?” jawabnya penuh canda.

“Minta donk... tapi jangan bilang-bilang dia ya, janji !” pintaku.

“Nih, Nul kirim aja biar cepet, ia ga bakal kasih tahu !” sumpahnya ku ambil malam itu, kami berdua bagai agen CIA yang sedang memburu buronan kabur.

Selepas obrolan dengan Nul, aku masuk sebuah ruangan yang aku anggap itu sebagai kamarku, padahal penampakannya sama sekali tidak mencirikan kamar layaknya. Tapi mau di kata apa, di situ aku dan temanku  istirahat dalam penjagaan malam. Ku lihat temanku sudah tidur pulas, dia cepat ngantuk, jam sembilan saja dia sudah duluan ke kamar. Ini kesempatanku untuk membuktikan keberanian sebagai lelaki sejati J.

Ku cari nomor hp gadis itu di list kontak hp nokia jadulku, “Dapat !,”  dengan tangan agak berkeringat dingin, detak jantungku semakin kencang, tak ayal aku berlatih bicara sendiri, pertanyaan yang bagaimana yang harus aku tanyakan ke gadis itu. Rasa gugup menghampiriku, tak ayal aku membantalkan sampai empat kali untuk menelponnya. Ke-lima kalinya aku berhasil tersambung dengannya.

“Hallo, assalamu’alaikum..” suaranya yang merdu mengawali perbincangan kami di pesawat telpon, sekaligus aku semakin gugup saja.

“Hallo juga, ehm... !” aku mencoba berdehem, agar gugupku hilang.

“Ini siapa ya ?, kok ga ada namanya di hp ku,” tanya gadis itu penasaran.

“Ini aku Nenk eh salah ! Fitry maksudnya,” aku mulai terjebak perangkap musuh.

“Itu mah nama aku, kok tahu namaku Fitry dari siapa?,” pertanyaannya mematahkan jantungku. Ternyata, aku salah nyebut namaku sendiri.

“Eh... maaf, maksudnya ini Nenk Fitry yah ? aku di kasih tahu sama teman katanya nama kamu Nenk atau Fitry.”

“Ia tahu.. tapi kamu siapa ?,”

“Oh... nama aku Jounal, itu loh yang suka ngepel masjid Nenk,”

“Oh... ka Jounal, bilang dari tadi, aku sudah tahu nama kakak dari teman kakak ,” ambisiku semakin menggebu untuk mendapatkan hatinya.

Cukup lama aku ngobrol di telpon genggam dengannya, sampai jam setengah dua belas malam, sampe pulsaku bocor, untung kartunya sama. Aku semakin tahu soal pribadi dia, bahakan aku beranikan diri bertanya soal pripacy dia, syukurnya dia tidak marah dan senang sebaliknya. Wajahnya terus hadir dalam benakku. Hingga sampai pada puncaknya, aku bicara tentang maksud dan tujuanku padanya.

“Nenk, sudah punya pacar ga ?,” mungkin ini agak konyol menurutku, tapi harus bagaimana lagi.

“Belum ka,” jawabannya membuatku terpukau dan puas bukan kepalang “YES ! I got you.”

“Nenk sih mau aja, asal ka Jounal setia sama Nenk, Nenk ga mau sakit hati lagi kaya hubungan Nenk dulu.” Jawabnya membuatku segera memberi komitmen di atas keutuhan  dan kesetian cinta J.

Tiga bulan lamanya, kami menjalin hati. Satu sama lain saling mengerti tugas, hak dan kewajiban sebagai seorang pelajar. Aku yang sudah duduk di bangku kelas 3 IPA, yang sedang fokus untuk menghadapi UAN. Dia saat itu masih duduk di kelas satu Aliyah, dia jauh lebih muda usianya dariku. Dan kriteria itulah yang masuk dalam daftar pencarian cintaku selama ini. Bahkan aku pernah membca buku psikologis cinta, memang sudah seharusnya usia wanita yang kita cintai relativ lebih muda dari kita sebagai laki-laki, ini bertujuan, agar di antara bisa saling belajar, menerima perbedaan dan saling melengkapi satu dengan lainnya.

Dia, yah dia. Dia adalah masa laluku yang membuatku bangkit agar aku tetap fokus untuk menggapai cita-citaku di bidang akademisi. Dia mengharapkanku sukses di masa depan, dan jika Tuhan menakdirkan kami berdua untuk bersama kembali. Aku menyebutnya dengan “Mukzizat Cinta”.

>

LIBURAN PERTAMA-



Pagi sudah kembali menjelang, matahari sudah beranjak naik meninggalkan peraduannya. Asrama sudah mulai terlihat sepi di sana-sini, dari lantai paling dasar sampai lantai ke-tiga. Hanya ada beberapa mahasiswa saja di lapangan yang sedang berolah raga, macam-macam, ada yang bermain futsal, bola kaki, raket dan bela diri, semuanya serentak di lakukan waktu pagi.

Ini adalah liburan pertamaku usai mengerahkan semua energi dan kemampuan dalam menjawab soal-soal UAS di semester awal ini. Beruntung sekali teman-teman asrama yang pulang kampung pada liburan UAS ini, tidak denganku, rumahku tidak jauh, hanya saja sekarang sedang terkena musibah di wilayah Ibu kota Jakarta, tanpa terkecuali rumah orangtuaku ikut terkena banjir yang sampai sekarang kabarnya belum juga surut, di tambah uang yang di kirim kakak-ku seratus ribu sudah habis dalam waktu kurang dari sebulan, wajar saja, kebutuhan pribadi banyak, kebutuhan untuk urusan kuliah juga banyak, di tambah hutang ke teman gara-gara tugas makalah.

Liburan kali ini bagi mereka sangat berarti, tapi tidak denganku. Tak ada yang ingin aku lakukan saat liburan seperti ini, bahkan nyuci bajupun tertunda terus, akibat kegalauan yang menerpa menit-menitku. Terpaksa hanya memenjarakan diri di kamar, buka leptop. Terkadang aktivitas di kamar aneh-aneh, bahkan hari pertama liburan, seharian hanya nonton film Box Movies. Filmnya pun macam-macam, dari film ‘700 Days Of Battle Us Vs The Police’, ‘BATTLESHIP (2012)’, ‘Ninja 2009’ sampai film ‘Premium Rush’. Semua filmnya seru tidak ada yang jelek, karena baru pertama kali aku menontonnya, cukup menghibur buatku.

Di kamar yang di tempatiku, hanya tinggal lima orang denganku. Semua jumlahnya ada sembilan orang, empat orang pulang ke rumah masing-masing, ada yang ke Banjar – Kalimantan, Jambi dan dua orang lagi ke tangerang dan pasar minggu.

          Mengejutkan ! salah satu teman satu kamar berinisiatip mengajak berenang pagi ini, Ahmad Sururi namanya, rumahnya di tangerang sehingga kapan saja ia bisa pulang tidak terikat, mau itu liburan semester atau liburan perpekan. Aku yang sedang asik membaca artikel tulisan ‘Om Jonru’ tiba-tiba di ajak, sepontan aku meresponnya, “Mau donk ikut rur, tapi ane ga ada fulus nih,” “udah ente tinggal bawa badan sama salinan, ane yang bayarin.”

Siapa coba yang mau nolak ajakan berenang, udah gitu di bayarin lagi J. Aku bergegas menyiapakan baju untuk ganti di sana, tidak banyak yang di bawa Cuma, baju, celana, sampo sama handbody buat luluran ke badan sebelum jebur ke kolam renang, biar kulit tidak hitam dan juga kesat.

“Ayuk cepet dah siang nih, bangunin Ansori tuh !,” kata surur,

“Ansori bangun, ikut berenang yuk,” kataku

“Ih... ane belum mandi,” “ga papa, mandi sekalian di sana, ane juga belum mandi J.”

Matahari belum begitu naik, sehingga tidak terlalu panas, kamipun ber-lima berangkat menuju lokasi. Karena lokasinya tidak terlalu jauh, dan cukup terjangkau di tempuh dengan berjalan kaki, kamipun berjalan kaki kesana, “yah.. hitung-hitung olah raga bro.”

Sesampainya di lokasi, aku segera bertanya berapa kedalaman kolam renangnya, “Pak, berapa dalemnya di sini?” tanyaku penasaran,

“Dalemnya tiga meter,” jawab penjaga kolam.

Wah ! sangat menantang buatku, bersyukur aku sudah bisa berenang sejak masih kelas 5 SD di Bandar Lampung dulu. Kabar buruknya, Sururi tidak bisa berenang, padahal sudah mahasiswa J. Kami berempat mengajari dia teknik berenang, mulai dari teknik mengapungkan badan di air, teknik bernafas saat sampai teknik mengepakan tangan dan kaki.

“Ih... gimana sih ! ane kok tenggelem mulu badannya ! susah banget berenang,” protes Sururi, “Hahaha... namanya juga belajar, sabar  ! emang agak susah, apa lagi yang takut kelelep ga bakal bisa-bisa.” Jawabku.

Emang lucu yah, dia yang ngajak berenang, eh... dia juga yang ga bisa berenang, “Sururi kalah sama bebek” J. Di kolam renang, sebentar-bentar tertawa ngeliat dia berenang ga bisa-bisa, bukan cuma aku, orang lain yang lagi istirahat-capek, pada ngeliatin dia. “Ada bebek yang ga bisa berenang hahaha J.”

Cukup lama kami berenang, sampai jam dua belas siang. Kamipun istirahat dan bersih-bersih badan di kamar mandi plus ganti. Siap-siap pulang. Sebelum pulang, kami sholat dzuhur dulu, kebetulan di sana ada mushola yang di sediakan oleh pengelola kolam renang, tidak besar tapi cukuplah untuk sepuluh orang. Sesudah sholat, seperti biasa dan ini sudah adat bahkan sunnatullah mungkin, sehabis berenang biasanya perut lapar, karena capek sejak tadi energi habis terpakai untuk mengayuh tangan dan kaki di kolam. Kamipun makan Ketoprak dulu, sudah Ketopraknya enak “maklum orang laper”, di tambah Ketopraknya di traktir sama teman J.  “And let’s go home...!”

>
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Blogger templates